Untuk Bersaing di Malaysia, Pendidikan Farmasi Klinik Harus Diperkuat

0
844
farmasi klinik

Untuk Bersaing di Malaysia, Pendidikan Farmasi Klinik Harus Diperkuat. Ribuan mahasiswa farmasi dari negeri jiran telah kembali ke negaranya setelah lulus di beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, seperti Universitas Padjadajran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Indonesia (UI).

Pernahkah menelusuri mereka, bagaimana lulusan dari mereka saat ini di negaranya? Untuk itu bidhuan berhasil menghubungi salah satu mahasiswa asing asal Malaysia, Linesh Kumar Segar.

linesh
Linesh ketika kuliah di Fakultas Farmasi Unpad

Pada awalnya Linesh memilih kuliah di Indonesia dengan mencari Universitas yang sudah terakreditasi pemerintah Malaysia, yakni oleh Jawatan Perkhidmatan Antarbangsa (JPA). Dengan berbagai pertimbangan akhirnya memilih Unpad dan berhasil lulus pada November 2013.

“Sekembalinya dari Indonesia, saya harus melanjutkan semacam pelatihan untuk mendapatkan lisensi sebagai Apoteker.” Ujar Linesh yang saat ini berusia 26 tahun.

“Saya harus menunggu pemanggilan dari Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM red.) dan Lembaga Farmasi Malaysia (LFM) setelah melakukan registrasi kelulusannya tentunya.” Ujar Linesh.

Di Indonesia KKM setingkat Kemenkes dan LFM adalah Komite Farmasi Nasional (KFN). Menurutnya ketika mendaftar akan dihadapkan ke beberapa bidang seperti Logistics, Drug information service, In patient care, Out patient care, Therapeutic drug monitoring, dan clinical public health. Linesh sendiri memilih clinical public health.

“Akhirnya pada Mei 2014 saya ditempatkan di Hospital Kulim, Kedah sebagai Privisionally Registerd Pharmacist (PRP red.) atau Semi Apoteker untuk melakukan training atau pelatihan selama 1 tahun 4 bulan.” Lanjutnya sambil menjelaskan bahwa pelatihan ini akan berbeda di setiap bidang yang dipilihnya. Kegiatan ini mirip dengan Masa Bakti Apoteker atau Dokter Internship.

“Pada September 2015, saya berhasil lulus sebagai Fully Registerd Pharmacist (FRP red.) dan diwajibkan untuk mengikuti penempatan kedua di Klinik Kesihatan Bagan Serai, Perak. Jika tidak mengikuti kegiatan ini maka akan dicabut izin yang telah didapatkannya.” kata pria yang masih single ini dan juga menjelaskan bahwa semua proses tanpa dipungut biaya serta selayaknya pekerja yang digaji pemerintah setempat.

Saat ini Linesh telah bekerja sebagai Pegawai Farmasi Klinikal Gred U41 di Pejabat Daerah Kesihatan Kerian, Perak, Malaysia mirip sebagai Pegawai Negeri Sipil di Tingkat Provinsi. Menurutnya tidak semua Apoteker disana bisa mendapatkan tingkatan yang diraihnya. Disitus resmi pemerintah, Apoteker ditingkat ini meraih gaji awal minimal sebesar RM 2,570.42 atau sekitar 8 juta rupiah.

Ketika disinggung bedanya lulusan Farmasi dari Malaysia dengan di Indonesia, Lines sedikit membeberkan beberapa fakta yang ada saat ini.

“Penempatan untuk menjadi seorang Apoteker teregistrasi bagi lulusan dari Indonesia bisa sampai 4-5 bulan, sedangkan untuk yang lulus dari Malaysia bisa 1-2 bulan. Selain itu, dalam dunia pekerjaan lulusan dari sini memiliki keunggulan dari sisi pengalaman praktek klinis sewaktu kuliah” terang Linesh,

“Karena di Indonesia kita tidak diajarkan lebih mengenai Farmasi Klinik termasuk praktek ke Rumah Sakit atau Klinik menyebabkan kurangnya keyakinan diri sewaktu bekerja” lanjut Linesh sedikit curhat.

“80 % dari bidang pekerjaan Farmasi yang ada di Malaysia membutuhkan pengetahuan klinik” jelasnya sambil memberikan saran agar Universitas di Indonesia lebih menitikberatkan bidang klinis terutama bagi Mahasiswa Asing asal Malaysia.

“Sistem pendidikan farmasi di Malaysia lebih kepada pembelajaran klinikal atau hospital or health care based setting, kemungkinan karena kurangnya pengajaran clinical stuffs” lanjutnya.

Walaupun demikian, teman seangkatannya saat ini semua telah bekerja tidak ada yang menganggur. Linesh pun mulai membeberkan beberapa kelebihannya ketika kuliah di Indonesia lalu yang dirasakannya saat ini.

“Di samping mendapat ilmu farmasi dapat belajar hidup secara berdikari, mengenali dengan lebih dekat cara-cara mewujudkan self leadership, juga mempelajari budaya dan tradition walaupun sedikit rakyat indonesia (yang ditemuinya red.), dan paling penting menimba ilmu farmasi industrial.” tutupnya sambil berharap agar Universitas di Indonesia bisa lebih bersaing di kancah Asia.