Tunggu Izin DIKTI, UMI Siap Membuka Prodi Apoteker Tahun 2016

0
756
farmasi umi
www.farmasi.umi.ac.id

Tunggu Izin DIKTI, UMI Siap Membuka Prodi Apoteker Tahun 2016. Dalam waktu dekat ini di Kota Makassar, Sulawesi Selatan akan memiliki 2 Program Studi Apoteker. Selain di PTN Universitas Hasanuddin, PTS Universitas Muslim Indonesia (UMI) tinggal menunggu izin dari Kemenristek DIKTI.

Dikutip dari situs resminya, Fakultas Farmasi UMI telah 10 tahun lebih mengelola Program Studi Ilmu Farmasi jenjang S1 dan saat ini siap membuka Program Studi Profesi Apoteker.

“Kami mohon doa dan supportnya semoga upaya yang kami tempuh ini mendapat Ridha Allah SWT sehingga pembukaan Program Studi Profesi Apoteker tidak terkendala banyak hal dan berjalan sesuai rencana,” harapan Dekan Fakultas Farmasi UMI Rachmat Kosman, M.Kes, Apt.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pembukaan Program Studi Profesi Apoteker untuk menjawab minat dari alumni sarjana Farmasi UMI maupun Sarjana Farmasi dari PT lainnya di Kawasan Timur Indonesia.

“Semuanya sudah siap. Kami tinggal tunggu SK dari Kemenristek. Tapi kami usahakan tahun ajaran ini sudah ada ijinnya,” ungkap Dekan Fakultas Farmasi UMI Rachmat Kosman, saat mengunjungi redaksi Rakyatku.com, Kamis (25/2/2016).

Ia mengungkapkan, dalam membuka prodi tersebut, telah mengantongi persetujuan pihak Dikti. Selain itu, sebelum membuka prodi pihaknya juga harus mengantongi akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT).

“Modelnya pembukaan prodi saat ini beda pembukaan prodi dulu. Sekarang direkatkan dengan BAN PT. Jadi SK keluar bersama dengan akreditasi,” jelasnya.

Untuk penerimaan pertama, Rachmat mengatakan, akan menerima sekitar 80 mahasiswa program Apoteker dengan dua kelas. Dengan beberapa syarat masuk. Diantaranya, berasal dari perguruan tinggi yang terakreditasi serta memiliki poin toefl 450.

“Tidak menutup kemungkinan akan ada pengajar dari luar. Jadi kebutuhan bahasa juga diperlukan pada calon mahasiswa,” ujarnya.

Kawah candradimuka hadirnya Apoteker baru terus bertambah. Hal ini membuktikan banyaknya mahasiswa program studi sarjana di Makassar yang mulai tidak tertampung di Universitas Hasanuddin. Apakah bertambahnya kuantitas diiringi pula dengan kualitasnya?

SHARE