Alat Deteksi Kanker Payudara Terdetil Mirip Dr Warsito Hadir di Yogyakarta

0
1743
kanker payudara

Alat Deteksi Kanker Payudara Terdetil Mirip Dr Warsito Hadir di Yogyakarta. Pihak RSUP Dr Sardjito dengan bangganya memperkenalkan alat diagnosa kanker payu dara yang diklaim sebagai alat terdetil untuk deteksi dini kanker payudara.

Seperti dikutip republika.co.id, Alat ini merupakan satu-satunya alat yang ada di Indonesia yakni Mammography Digital Microdose (MDM) yang dilengkapi dengan sistem Computer Aided Detection (CAD). “Sistem CAD ini mengoptimalkan akurasi diagnostik,” jelas Spesialis Radiologi RSUP Dr Sardjito, Lina Choridah, di Yogyakarta Jumat (19/2).

Perbedaan mammography yang dimiliki RSUP Dr Sardjito sebelumnya dengan MDM dengan CAD adalah sistem operasionalnya sudah otomatis dengan komputerisasi. Alat ini juga dilengkapi dengan penghangat sehingga tekanannya berbeda. Karena itu alat ini lebih nyaman dan dosis radiasinya sangat rendah.

Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP Dr Sardjito, Rukmono mengatakan pemeriksaan dengan alat tersebut bisa dicover dengan BPJS asal ada indikasi kanker payudara yang dinyatakan oleh dokter onkologi di RSUP Dr Sardjito. Namun apabila pemeriksaannya atas kemauan sendiri dan untuk deteksi dini, akan dikenakan biaya sendiri sekitar Rp 600 ribu .

Sedangkan Konsultan Bedah Onkologi RSUP Dr Sardjito Prof Teguh Aryandono mengatakan dengan alat tersebut bisa menemukan adanya kanker payudara yang sebelumnya tidak teraba apa-apa. Alat ini bisa untuk mendeteksi adanya kelainan payudara dan tumor yang berukuran kecil sehingga bisa mendiagnosa kanker payudara yang masih stadium pertama.

Teguh yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengatakan, apabila kanker payudara sudah ditemukan saat masih stadium pertama, angka kesembuhannya tinggi yakni 80 hingga 90 persen. Artinya kalau ada 100 orang penderita kanker payudara, maka bila diobati dengan benar, dalam lima tahun kemudian sebanyak 90 orang di antaranya masih hidup dan tingkat kekambuhannya kecil .

Namun kalau seseorang terkena kanker payudara baru diketahui setelah stadium empat, dalam lima tahun kemudian yang masih hidup hanya 30 orang. Karena itu Teguh menganjurkan kalau seorang wanita sudah mengalami menstruasi dianjurkan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (sadari) setiap sebulan sekali. Selanjutnya bila sudah berusia 40 tahun, bisa melakukan pemeriksaan mammography.

Padahal alat ini memiliki kemiripan dengan alat temuan dari Dr Warsito Purwo Taruno, bahkan generasi terbarunya selain mendeteksi juga bisa membasmi sel kankernya seperti keterangan dari wikipedia berikut ini.

Teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) ciptaannya mirip dengan USG / CT Scan dan MRI yang banyak digunakan di dunia medis. Namun tak seperti CT Scan dan MRI yang hanya digunakan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh manusia, ECVT jauh lebih canggih karena pasien tak perlu masuk ke dalam tabung seperti alat MRI yang cuma menampilkan gambar dua dimensi.

Sistem ECVT ini terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display. Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar, tanpa menyentuh obyek bahkan obyek skala nano dan obyek yang bergerak dengan kecepatan tinggi bisa terlihat.

Teknologi ECVT sudah diakui bahkan dipakai lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, BP Oil, Shell (perusahaan), ConocoPhillips, Dow Chemical, mistubishi Kimia termasuk Departemen Energi AS (Morgantown National Laboratory).

Sedangkan di Indonesia sendiri, teknologi ini digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.

Alat terbaru yang sedang dikembangkan Dr. Warsito dan timnya adalah alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat yang berbasis teknologi ECVT itu terdiri dari empat perangkat yakni brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy.

Brain activity scanner dibuat Dr. Warsito sejak Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi. Bentuk alat tersebut mirip helm dengan puluhan lubang connector yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer. Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak.

Dengan alat itu, dokter juga bisa melihat seberapa parah kanker otak yang diderita pasien. Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September 2011 juga berfungsi mendeteksi adanya sel kanker di tubuh. Selain dua alat tersebut, Dr. Warsito melengkapinya dengan membuat brain cancer electro capacitive therapy dan breast cancer electro capacitive therapy.

Dua alat berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai itu terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan. Setelah menggunakan alat ini, reaksi tubuh pasien mengeluarkan keringat bukti alat tersebut bekerja baik. Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV.

Dalam waktu beberapa bulan setelah pemakaian, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawa itu. Untuk brain cancer electro capacitive therapy, Dr. Warsito mencoba mengenakannya kepada seorang pemuda berusia 21 tahun yang menderita penyakit kanker otak kecil (cerebellum).

Kondisi pemuda itu sudah parah, lumpuh total dan tidak bisa menelan makanan atau minuman. Dalam terapi ini, Dr. Warsito bekerja sama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki. Setelah dua bulan pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total. Lengkapnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Warsito_Taruno

Apakah bidhuaners akan bangga terhadap anak bangsanya menciptakan suatu alat pendeteksi dan pembasmi sel kanker yang digunakan di seluruh dunia? [Baca : Miris! Ditolak Indonesia, Kini Warsito Kembangkan ECCT di Polandia]