Tulisan Inspiratif Motivasi Berjuang Melawan Ganasnya Kanker Otak

0
851
kanker sel
Sumber gambar : FreeDigitalPhotos.net

Tulisan Inspiratif Motivasi Berjuang Melawan Ganasnya Kanker Otak. Yogi Santosa menuliskan satu-satunya artikel di blog pribadinya “Pesantren Siloam” yang berjudul “MOTIVASI SAYA” pada 16 Mei 2015.

Tulisan ini bercerita tentang kisah pribadinya dalam berjuang untuk bertahan hidup dari ganasnya kanker otak. Setahun berselang Tuhan berkata lain, kini almarhum telah tenang di alam barjah. Berikut adalah lengkapnya.

Gak mau latah jadi motivator sih karena gak punya kapasitas. Hanya ingin membuka saluran supaya yang ada di benak ini bisa mengalir dan gak menuh-menuhin pikiran. Semoga bisa diambil manfaatnya bagi yang mau bersabar membaca. Panjang loh.

Saya berlindung kepada Allah dari godaan riya, sehalus apapun desiran itu dihembuskan syaitan laknatullah.

Beberapa orang bertanya setelah melihat rekaman video terapi radiasi kanker otak, bagaimana saya bisa mengambil sikap seperti itu.

Ada beberapa hal yang mendukung sikap itu.

1. Saya tidak merasakan pengaruh keganasan sel kanker terhadap kondisi tubuh

Tidak pernah ada keluhan yang serius selama ini. Hanya gejala batuk yang seringkali berlangsung lama dan selalu bisa diatasi dengan obat. Saya selalu berfikir bahwa batuk itu adalah penyakit yang sangat umum. Tidak pernah memicu alarm tubuh dan pikiran saya untuk mengkhawatirkan adanya kemungkinan kanker. (lupa akan kebandelan masa muda yang memiliki kebiasaan buruk merokok yang cukup lama).

Karena tidak merasakan pengaruh buruknya, rasanya tepat kalau saya nyatakan bahwa saya bukan penderita kanker. Saya memang penyandang kanker, karena sekarang ini lagi ngiwir-ngiwir itu sel-sel ngeyel di dalam tubuh saya. Tapi, berkat rahmat Allah, kanker tidak mampu membuat saya menderita (sorry ya, sel ngeyel, skor 1 buat saya nol besar buat ente 👽, ha!)

2. Keawaman saya tentang kanker

Selama ini minim sekali pengetahuan tentang masalah ini. Ada benarnya istilah yang mengatakan “berbahagialah orang yang tidak tahu”.

Saya nggak tahu bahwa kondisi saya ini sudah masuk kategori stadium 4b, karena kanker paru sudah metastase atau menyebar ke beberapa tempat, yaitu di otak dan beberapa tempat di tulang. Pengetahuan yang baru diyakini setelah konfirmasi langsung dengan dokter minggu lalu (parah ya kecuekan gw? 🙈🙉🙊).

Sampai saya dapat konfirmasi itu, selalu berkeyakinan bahwa saya ini masih di stadium dini. Karena point pertama di atas itu…, saya nggak merasakan penderitaan sakit, alhamdulillah.

Terus gimana dong kalau udah tahu gitu? Yaa udah, jalani proses.
Untung (nyari untung di setiap kesempatan 💱💲💹), sejak pertama konsultasi dokter yang menangani, dr. Achmad Mulawarman Jayusman SpP (K), menyampaikan hal ketiga berikut.

3. Sikap Ikhlas

Yang paling teringat hasil konsultasi pertama dengan dr. Achmad Mulawarman SpP (K) adalah komentarnya tentang masalah ini.

Sambil menatap mata saya beliau mengatakan “Ikhlas aja pak”. Alhamdulillah, pak dokter menyatakan itu langsung kepada saya, coba kalau kepada istri saya disamping sambil pakai imbuhan ‘kan’, misalnya “Ikhlaskan saja bu”.
Saya mungkin udah terjengkang kaki ke atas mata berkunang-kunang 😱😖😵😵😵

Dokter menerangkan bahwa sikap ikhlas ini menghasilkan energy positif yang membantu mempertahankan sistem imun yang penting dipertahankan dalam kondisi seperti ini. Banyak penyandang kanker yang menderita sakit karena kondisi memburuk akibat sistem imun tubuh yang menurun drastis.

4. Tujuan hidup

Melalui fase hidup yang sedang saya lalui ini Allah memberi kesempatan saya untuk melihat kembali misi hidup ini. Meluangkan lebih banyak waktu untuk merenungi maksud penciptaanNya.

Mengapa saya terpilih untuk masuk ke dalam jasad ini?😇

Apa tugas saya diturunkan ke dunia ini? 👣👣👣

Kemana sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan ini? 🌏💭

Jeng-jeng…!

Sebagai muslim tentu saya menemukan jawabannya di dalam risalah yang diturunkan Allah kepada rasul akhir zaman. Ibadah kepada Allah! itu saja tujuan hidup ini, sederhana ya? prakteknya? buatlah sederhana dan mudah. Dien itu dibekalkan kepada kita untuk menjadi tuntunan, jangan dibuat sulit.
Dalam konteks ini, tempelkan niat ibadah mardhotillah pada setiap langkah, tindakan dan karya kita. Nothing more, simple! Dan kita akan memperoleh nilai ibadah sesuai tujuan hidup yang diemban, in syaa Allah. Masalah ganjaran pahala, amal jariyah yang mengalir, kampung surga, dsb adalah janji Allah yang pasti ditepati jika niat kita sudah lurus yang dibarengi dengan ketaatan atas segala perintah dan laranganNya.

Bagian ini rada panjang dikit ya…please bear with me if you don’t mind.

Tugas hidup yang terpikirkan saat ini hanya keluarga. Bukan masyarakat, bangsa atau dunia…jauh teuing mikirna kesitu mah, otaknya lagi diganggayong (tolong terjemahkan neng Yayu 😊) sama si sel ngeyel ini.

Berdasarkan mbah googling, saya memperoleh informasi bahwa penanganan kanker ini nggak pernah menargetkan survival jangka panjang. Target yang selalu disebutkan adalah 5 years survival 😱😱😱. Sah-sah aja untuk keperluan pengukuran keberhasilan treatment memang harus ada hal seperti ini. Realitasnya adalah rahasia umur hanya Allah yang mengetahui ya toh? Why bothered?

Jadi, tentu saya masih berharap hidup seribu tahun lagi secara sehat dan tidak merepotkan orang lain.

Karena yang terpikirkan tugas keluarga, maka yang terlintas adalah satu persatu wajah anggota yang ada dalam sekoci rumah tangga yang saya imami.

Saya menanamkan motivasi hidup untuk dapat terus berdampingan dengan istri tercinta dalam membina keluarga, mendidik anak-anak yang Allah titipkan kepada kami dan mengantarkan mereka menjadi anak-anak yang berhasil memahami dan melaksanakan tugas penciptaan mereka. Mereka harus menjadi anak-anak yang dapat kami banggakan di dunia ini dan pada saat kami menghadap Allah kelak. Aamiin.

Anak gadis saya Mutiara Nadhilah adalah wajah berikutnya yang tampil.
Harapan saya sederhana. Saya ingin duduk di hadapan calon suaminya untuk menandatangani kontrak ijab kabul di hadapan Allah dan menyerahkan tanggung jawab imamah. Dan tentunya juga ingin ikut mengawasi bagaimana mereka mendidik cucu-cucu kami. Sederhana ya? Hehe…banyak maunya juga, biarin..

Saya nggak memaksakan target waktu, yang penting gadisku dipersunting seorang lelaki sholeh yang bertanggung jawab sesuai syariat. Sepenuhnya bersandar kepada Allah agar segera dipertemukan dengan jodoh yang diinginkan.

Berikutnya adalah kedua jagoanku.

Anak saya yang kedua, Yoga Aulia Rahman, saat ini akan lulus SMA bercita-cita menjadi pilot. Saya berharap dapat berkeliling dunia dengan pesawat yang dipilotinya sebagai Kapten. Sederhana ya? Go for it Yoga! Make it happen and let me be the happiest father!

Next! Rafi Taufiqul Hafizh, anak bungsu paling bongsor menyampaikan niatnya untuk berbakti kepada bangsa ini di bidang militer! Top!
Harapan saya juga sederhana saja kok. Saya ingin melihat bintang-bintang tersemat di dadanya kelak. Menjadi Jendral yang ihsan dan tawadhlu. Aamiin…

Masih lama banget ya untuk sampai pangkat jendral? emang nyampe umur? santei aajah, khan harapannya juga masih hidup seribu tahun lagi, remember?

Bagian ieu tamaaat…tarik nafas dulu.

Ada lagi yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap saya menghadapi kondisi ini. Mangga diteraskeun…

5. Saya memiliki Allah

Tidak ada sehelai daunpun yang jatuh di tengah rimba yang sunyi tanpa sepengetahuan Allah. Padahal Allah mengurus ribuan bahkan jutaan tata surya tanpa ada kekacauan. Dia tidak pernah tidur.

Mengapa harus risau? La Tahzan! Jangan bersedih. Allah tahu kok apa yang terjadi. Semua ini atas kehendaknya dan ada tujuannya. Sambil terus berikhtiar serahkan saja lagi semua kepada designernya, ya khan?

Satu yang saya tanamkan dalam pikiran saya, dan saya dapat tips dari temen alumni SMP (hatur nuhun Uni Fenny atas sharing pengalamannya).

Bahwa sel ngeyel ini adalah mahluk ciptaanNya, sebagaimana tubuh saya. Yang membedakan, tubuh saya memiliki ruh yang dibekali Allah dengan software komunikasi langsung tanpa perantara. Sementara, sel ngeyel kerjanya ngunyah dan nyedot zat nutrisi yang dibutuhkan sel2 sehat (prasangka saya, wallahu’alam).

Jadi, saya memiliki Allah tempat bergantung dan bisa dihubungi langsung untuk meminta pertolongan, sedangkan sel ngeyel sibuk-sibuk ngunyah. Nah! Siapa yang punya advantage disini? akyu…😍😍
So, tenang saja…bergantung saja hanya kepada Allah, minta pertolongan Nya untuk menghajar sel-sel ngeyel ini sampai bersih sih sih sih. (sorry ya, sel ngeyel, skor sekarang 2 buat saya nol besar buat ente 👽, ha ha!)

Satu lagii aja yah…semoga masih sabar ngikutinnya. Orang sabar kekasih Allah lho.

6. Dukungan dari semua pihak

Ini kekuatan yang luar biasa dalam memompa semangat saya. Saya bersyukur memiliki keluarga besar yang penuh kasih sayang dan perhatian. Boss dan rekan kerja yang penuh pengertian dan teman-teman dari berbagai kalangan. Yang dengan situasi ini menjadi terasa lebih dekat membentuk persaudaraan.

Teknologi komunikasi digital sangat memudahkan menyambungkan kembali tali silaturahim. Teman yang puluhan tahun terpisah, bahkan ribuan mil jaraknya menjadi serasa duduk di sekeliling saling menyemangati. Pagi bener chattingnya, sore error…tapi selalu dalam koridor dan semangat menguatkan hubungan.

Rasa syukur saya panjatkan juga karena saya memperoleh karunia bekerja di perusahaan yang memiliki kebijakan kesehatan yang baik, sehingga urusan biaya tidak perlu juga saya risaukan.

Doa dari orang tua juga teramat besar peranannya. Walaupun ibu saya belum diberitahu kondisi ini demi kebaikan beliau, saya tahu betul beliau selalu mendoakan anak cucu mantunya di sepertiga malam. Jika beliau membaca tulisan ini, saya memohon maaf atas pilihan cara komunikasi ini. Saya sudah berencana memberitahukannya setelah terapi otak ini. To let her know that I am in the right hands and every thing is being taken care of and getting better.

Finally, plong rasanya. Terima kasih bagi yang sudah bersedia meluangkan waktu membacanya. Terutama untuk semua doa dan dukungannya.

Semoga tulisan ini memberi manfaat dan maaf jika ada yang tidak berkenan.

Wallahu’alam bi shawab.

Diposkan 16th May 2015 oleh Yogi Santosa di http://pesantrensiloam.blogspot.com/
Lokasi: Semanggi, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930, Republic of Indonesia
Label: cinta dukungan family ikhlas kanker keluarga love misi moral moril motivasi MRCCC radiasi rumah sahabat sakit terapi visi

Penulis adalah alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran angkatan tahun 1986 dan juga praktisi dosen tamu di FE Unpad. Innalillahi wa innaillaihi rojiun.