CRA Cocok Untuk Apoteker dengan Passion di Klinik dan Suka Traveling

0
1204

CRA Cocok Untuk Apoteker dengan Passion di Klinik dan Suka Traveling. Clinical Research Associate (CRA) mungkin tidak banyak yang tahu tentang pekerjaan yang menjanjikan di dunia Farmasi ini. Untuk itu bidhuan secara ekslusif melakukan wawancara dengan apoteker muda ahli uji klinis di Indonesia.

Dialah Swarie Harinovita, seorang Apoteker lulusan Universitas Padjadjaran pada tahun 2005. Karirnya telah menjelajahi beberapa Industri Farmasi terkenal di Indonesia. Swarie langsung mendapat pekerjaan sebagai Regulatory Officer di Sanbe Farma sebelum disumpah menjadi Apoteker.

Selang setahun, mantap untuk pindah sebagai Regulatory Officer for export products di Kalbe Farma. Cukup 9 bulan, pada tahun 2007 mulai berkarir sebagai Clinical Research Associate di Pfizer Indonesia selama 3 tahun.

Dari sinilah mulai diperkenalkan apa itu CRA yang menarik baginya untuk mengembangkan kariernya di dunia Farmasi.

“Bisa dibilang passion Saya itu di clinical trial jadi makanya tertarik untuk terus bekerja dibidang ini sampe sekarang. Selain itu posisinya gak hanya serta merta mentok menjadi clinical research associate saja. Surprisingly enough, ada banyak posisi yang mensupport berjalannya suatu clinical trial.” kata Swarie ketika dihubungi Bidhuan.

Dirinya semakin fokus sebagai CRA setelah mendapat tawaran dari Quintiles Indonesia dengan posisi yang sama yang kemudian dipindahkan ke Quintiles Indonesia cabang di Australia, Sydney sampai tahun 2013.

Karirnya terus melesat dan dipercaya Novartis sebagai Senior CRA kemudian pindah kembali ke Quintiles Indonesia di Jakarta hingga saat ini.

Apa itu CRA?

Swarie kemudian mencoba menjelaskan apa itu CRA dengan gambar berikut ini untuk sekedar mengingatkan apa bedanya uji di laboratorium di hewan yang disebut uji pra klinis dan uji klinis di manusia dengan beberapa fase yang merupakan studi lanjutan dalam penemuan obat baru.

uji klinik
impglobal.org

“Untuk memulai suatu uji klinik biasanya ada dibuat Protokol uji klinik yang berisi background dilakukannya penelitian, syarat-syarat subyek yang bisa di-enroll dalam study tersebut, prosedur apa saja yang akan dilakukan selama uji klinik, pokoknya informasi apapun yang dibutuhkan agar uji klinik tersebut agar bisa berjalan.” terang perempuan yang juga bersuamikan Apoteker ini.

“Uji klinik ini biasanya dilakukan di multi center (pusat penelitian .red). Setiap center penelitian itu ada penanggung jawabnya yaitu Principal Investigator (background-nya dokter) dengan tim-nya seperti sub investigator, study coordianator, data entry, lab staff, dan lainnya tergantung jenis study.” lanjutnya.

“Selama Principal investigator ini menjalankan study, CRA ini adalah perpanjangan tangan dari sponsor yang biasanya dari perusahaan farmasi untuk melakukan verifikasi apakah semua data, prosedur dan proses yg berlangsung selama uji klinik ini sesuai dengan regulasi seperti GCP, Perka BPOM, Peraturan Menteri Kesehatan sampai SOP. Tujuannya apa, demi memastikan safety subyek, confidentiality serta integrity data yang di collect selama uji klinik ini terjaga.” jelasnya.

Syarat untuk berkarir sebagai CRA?

Menurutnya seorang CRA harus siap dengan pengetahuan medis, obat dan yang paling penting mengerti dengan protokol uji klinik yang sedang dijalankan. Selain itu tempat CRA bekerja itu di perusahaan farmasi atau sponsor yang membuka unit Clinical Trial sendiri atau bisa di CRO (Contract Research Organization), yaitu vendor yang menawarkan jasa dalam proses uji klinik kepada para sponsor. Saat ini dirinya bekerja di CRO yakni Quintiles Indonesia.

“Pada dasarnya CRA itu sebaiknya memiliki background pendidikan di kesehatan. Apoteker sudah ada poin untuk yang satu ini.” tambah Swarie.

Suka duka berkarir sebagai CRA?

Ada poin penting yang harus dimiliki seorang Apoteker jika ingin berkarir sebagai CRA.

“Untuk menjadi CRA yang paling penting teliti, karena dia akan mem-verifikasi data uji klinik dibandingkan dengan source document, bisa berupa medical record, hasil lab, xray dan lainnya. Selain itu, CRA itu harus yang rapih dan organized, makanya CRA itu banyaknya perempuan yang memiliki communication skill yang ok.” ujarnya.

Menjadi seorang CRA akan memilki tantangan yang unik menurut Swarie. pertama, bisa belajar hal baru karena setiap terlibat dalam suatu protokol baru, maka akan dibekali dengan pengetahuan medis mengenai indikasi,obat yang berhubungan dengan protokol.

Kedua, bisa jalan-jalan traveling karena CRA itu kerja nya mobile. Tempat penelitian itu jarang yang cuma 1. Biasanya ada beberapa di tiap negara. Monitoring untuk keluar daerah itu sangat mungkin. Dan tidak menutup kemungkinan untuk monitoring site di luar negeri ataupun sekaligus di transfer dan ber-basis di luar negeri.

Selanjutnya, Fleksibilitas yang tinggi, CRA menurutnya merupakan pekerjaan yang bisa dilakukan secara jarak jauh tanpa harus ke kantor. Beberapa CRA banyak bekerja dari rumah. Terakhir, gajinya diatas rata-rata.

“Gaji? Hmmm.. relatif lah tergantung posisi dan perusahaannya juga..tapi bench mark CRA cukup tinggi kalau dibandingkan posisi lain se-level yang ada di perusahaan farmasi seperti Medical Scientific Liason atau pun registrasi” jawab Swarie.

Sayangnya di Indonesia regulasi mengenai Uji Klinis masih belum jelas dan dianggap prematur yang menyebabkan perkembangan obat penemuan baru di Indonesia tidak berjalan dengan baik.

“Regulasi di Indonesia yang masih prematur, timeline yang tidak jelas dan lain-lain. contohnya peraturan dari litbangkes mengenai Material Transfer Agreement. Ini juga yang menyebabkan global study agak susah masuk ke Indo” keluhnya menceritakan salah satu hambatan bekerja sebagai CRA.

Apoteker itu mitra sejajar dengan dokter!

Menarik ketika ditanyakan apa harapan terhadap para apoteker di Indonesia saat ini.

“Cuma satu sih, klo apoteker udahh gak jaman lagi merasa minder sama dokter. kita sejawat alias mitra sejajar. Dengan menjadi CRA beberapa lama ini membuat saya makin merasakan kalau ini bener.” tegasnya

“Sebagai CRA itu kita sering berdiskusi hingga berdebat ilmiah dengan para investigator kita. Dulu suka aga songong, bedanya CRA sama Sales Rep adalah kalo kita ke klinik dokter adalah kita tujuannya memberikan tugas atau to do list yang harus dilakukan oleh dokter peneliti dan bukan untuk berbaik-baik gak jelas” tutup Swarie dengan nada sindiran dan tertawa lepas.

Petuah bidhuan kali ini adalah “Temukan passion bidhuaners dimana, karena itu bisa membuat enjoy, fokus, dan berkembang dalam berkarir”