Penulis Novel dan Blogger Ini Berharap Apoteker Bersatu Maju Bersama

0
925
oom alfa

Penulis Novel dan Blogger Ini Berharap Apoteker Bersatu Maju Bersama. Profesi Apoteker lambat laun saat ini mulai muncul kepermukaan dan dikenal masyarakat, salah satunya melalui hasil karya nyatanya dalam bentuk offline maupun online.

Siapa sangka Apoteker pun ternyata pandai membuat novel bergenre komedi dan aktif berkarya dalam website pribadinya, dialah Alexander Arie Sadhar seorang Apoteker yang saat ini bekerja di Badan POM sebagai Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) sejak tahun 2014.

Pria lulusan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, tahun 2009 ini sukses menerbitkan novel komedi pertama di Indonesia dari kalangan Apoteker berjudul Oom Alfa pada tahun 2013.

“Saya terbilang gemar menulis sejak kecil, namun mulai beberapa kali ikut lomba itu sejak SMA di Kolese De Britto Jogja, Waktu itu hendak melanjutkan ke Sastra Indonesia, namun pemikiran selanjutnya justru membawa saya masuk ke Farmasi.” cerita Arie ketika dihubungi bidhuan.com

“Kesibukan praktikum dan lain-lain bikin saya hampir lupa menulis. Termasuk ketika sudah bekerja di industri farmasi, tambah lupa lagi.” Ujar Arie yang memang setelah lulus Apoteker sempat bekerja di Industri Ekstrak Bahan Alam pertama di Indonesia.

“Saya mulai mencoba konsentrasi menulis lagi itu kurang lebih tahun 2011, hingga kemudian bisa ikut beberapa antologi dan mulai menulis buku yang judulnya Oom Alfa. Bukunya sendiri terbit tahun 2013” Ungkapnya.

“Sekarang saya fokus menulis di blog saya, ariesadhar.com, sambil sesekali menuangkan ide via tulisan-tulisan di website yang menampung ide-ide wagu, semacam di Mojok maupun Voxpop.” lanjut Arie ketika ditanyakan kesibukannya saat ini.

Dikutip dari portofolio blog pribadinya, Arie memang gemar menulis dan telah dipublikasikan diberbagai media massa baik cetak maupun online. Dibalik kisah hidupnya ternyata menyimpan angan yang luar biasa untuk kemajuan dunia Farmasi di Indonesia.

“Waktu ribut-ribut SKP, saya merasakan kok kayaknya dunia farmasi di Indonesia itu berantem sendiri, satu pro sana, satunya pro sini. Bikin status facebook nyindir pihak yang berseberangan. Yang bikin itu padahal bukan sembarang orang.” Arie mulai bersemangat dan bercerita jujur.

“Sejauh saya terlibat dengan beberapa kali pelayanan kesehatan, saya merasakan apatisme teman-teman apoteker untuk terlibat dalam bidang pelayanan, semacam baksos begitu, karena mau mengajak untuk baksos saja setengah mati. Pernah pula saya ngobrol sama pentolan IYPG, dia mengadakan acara dengan biaya free atau cuma 20 ribu, banyak rekan apoteker yang konfirmasi datang tapi kemudian dengan mudahnya membatalkan kehadiran. Walhasil acaranya sepi dengan sukses.” kata Arie mulai mengeluh.

“Tiga poin yang berbeda tapi mengisyaratkan sesuatu yang kurang beres, sudahlah berantem sendiri, sebagian apatis, sebagiannya lagi kurang komitmen. Sebagai lulusan apoteker, yang tidak menggunakan gelar apoteker untuk bekerja sehingga cenderung menjadi pemirsa di kancah farmasi Indonesia, saya tetap punya mimpi suatu kali, kalangan farmasi yang kebanyakan pintar-pintar ini bisa benar-benar bersatu untuk memajukan profesi sendiri. Biarlah kotak-kotak farmasi industri maupun farmasi klinis itu hanya kotak sewaktu kuliah, begitu terjun langsung ke lapangan, sebaiknya kotak-kotak itu lebur dengan sendirinya” tutup Arie yang menggaris bawahi bahwa sudah saatnya para apoteker untuk bersatu dan memajukan profesinya.

Diakhir wawancaranya Arie juga menekankan bahwa dirinya akan terus berkontribusi dalam blog pribadinya dengan menulis ‘fakta unik anak farmasi’, sekadar ingin menyatukan rekan-rekan farmasi dalam satu medium bernama kenangan.

SHARE