Kisah Inspiratif Seorang Dokter yang Sukses Membangun Apotek K-24

0
1082

Kisah Inspiratif Seorang Dokter yang Sukses Membangun Apotek K-24. Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari seorang Dokter Puskesmas di sebuah pedesaan di Yogyakarta yang berhasil membangun jaringan Apotek waralaba pertama dan terbesar di tanah air.

Sampai Desember 2015, PT K-24 Indonesia sebagai pemilik Apotek K-24, apotek waralaba pertama di Indonesia yang telah memiliki lebih dari 342 gerai yang tersebar dari Medan hingga Merauke. Tentunya tidak bisa disandingkan dengan Apotek plat merah Kimia Farma yang mengklaim memiliki lebih dari 742 gerai yang telah berdiri sejak tahun 1957.

Berikut adalah profil sejarah dan kisah inspiratif berkenaan dengan berdirinya Apotek K-24 dikutip dari saatnyajadipengusaha.com dan apotek-k24.com.

Profil Pencetus dan Pemilik K-24

Dialah dr Gideon Hartono, lahir pada 10 Oktober 1963 dari sebuah keluarga sederhana yang tergolong kurang mampu secara ekonomi. Orang tuanya, Hadi Purnomo dan Linawati hanyalah penjaja kue moci dan tepung beras yang berkeliling dari Yogyakarta hingga Klaten.

Jiwa wirausahanya muncul sejak kecil karena kesehariannya adalah membantu orang tuanya menjual tepung beras merah di sekitar Klaten dan membuat kue moci untuk dijual keesokan harinya setiap pulang sekolah.

Tertarik Dunia Fotografi

Memasuki masa SMP, Gideon mulai tertarik dengan fotografi dan bekerja sebagai fotografer keliling. Memanfaatkan waktu di luar sekolah dan aktivitas keseharian membantu ibunya, ia pun rajin mengikuti lomba-lomba fotografi dan sering berhasil meraih kemenangan. Dari situ ia mendapatkan hadiah uang yang dipergunakan untuk membantu keluarganya.

Tumbuh Sebagai Siswa Cerdas

Di luar aktivitas keseharian yang dijalaninya, Gideon pun dikenal sebagai seorang siswa yang cerdas. Hal ini membuat beliau dapat melayani les privat matematika, kimia dan fisika untuk anak lain.

Dengan keuletan dan komitmennya pada dunia pendidikan, akhirnya beliau berhasil menamatkan pendidikan SMA dan bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada demi menghemat semua biaya karena universitas tersebut terletak di kampung halamannya.

Sejak kecil Gideon memang telah bercita-cita menjadi seorang dokter dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarganya. Semua kesulitan dan pahit kehidupannya turut membuat ia membulatkan tekadnya untuk sukses menjadi seorang dokter.

Lulus Sebagai Dokter Umum

Berhasil mewujudkan cita-cita untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, pada tahun 1987 Gideon berhasil lulus dan menjadi seorang dokter umum. Namun cita-citanya tidak berhenti disitu saja. Ia juga ingin menjadi seorang dokter spesialis. Keinginannya adalah untuk menjadi seorang dokter spesialis mata.

Sayang sekali, cita-cita sebagai dokter spesialis mata ini tak kunjung berhasil ia dapatkan. Terlahir sebagai keturunan Tionghoa, di awal tahun 1980 an merupakan masa terberat bagi sebagian masyarakat Tionghoa dengan segala diskriminasi dan adu domba yang sering memicu keresahan SARA.

Tiga tahun setelah kelulusan, Gideon terus mengikuti ujian agar dapat mengambil spesialisasi, namun kegagalan demi kegagalan terus ia temui dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Akhirnya Gideon pun harus mengakhiri mimpinya menjadi dokter spesialis mata dan pilihan diberikan kepadanya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk menjadi dokter di sebuah Puskesmas Gondokusuman di Yogyakarta. Disana ia melayani pasien dengan beragam profesi mulai dari pengemis, tukang becak, pengasong dan warga kurang mampu.

Memulai Bisnis

Kesulitan Menimbulkan Ide Awal dari Kisah Sukses Pengusaha Gideon Hartono ini.

Tak ingin berputus asa dengan berbagai kesulitan yang dialaminya, Gideon Hartono justru mendapatkan ide baru dengan menjadikan bisnis sebagai pilihan hidupnya, sambil tetap menjalankan profesi sebagai dokter.

Bisnis yang ditekuni tidak jauh dari hobinya di masa remaja dulu, yaitu di dunia fotografi.

Anak kelima dari tujuh bersaudara ini, sejak masih duduk di bangku SMP sudah bisa membantu mencari nafkah dengan menggeluti sebagai photografer keliling. Menginjak duduk di bangku SMA, ia sering mengikuti lomba slalom photo dan sering meraih kemenangan.

“Saya sengaja mengikuti lomba foto yang ada hadiah uangnya karena memang ingin mencari uang,:” ujar Gideon.

Selain mencari uang dengan mengikuti lomba foto, lelaki yang mengaku gemar membaca ini sudah melayani les privat matematika, fisika dan kimia di rumahnya yang sempit di kawasan Kranggan, Jogja.

“Semua uang yang saya dapat, semua saya serahkan ke ibu saya,” akunya. Ada kebanggan tersendiri yang dirasakan Gideon ketika berhasil memberikan uang kepada sang bunda.

Dari uang tabungan yang dititipkan ke ibunya dari kemenangan lomba foto, ia berhasil membuka studio foto kecil.

Studio foto bernama Agatha Foto yang ia jalankan bersama dengan adiknya, Tulus Benyamin, ini dimulai dari sebuah garasi dan pada tahun 90 an telah menjelma menjadi studio foto yang memiliki peralatan paling modern di Yogyakarta.

“Untungnya saya memiliki kemampuan fotografi sehingga bisa merubah hidup kami,” katanya.

Setiap sore selepas praktek di Puskesmas, Gideon langsung menuju ke Agatha Foto yang keseharian dipegang oleh adiknya. Usaha yang dirintis dari garasi ini berkembang dengan baik dan tidak hanya melayani fotografi saja, tetapi sudah merambah ke bidang usaha video untuk pernikahan dan bahkan berkembang menjadi sebuah rumah produksi Agatha Video.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan mendirikan Gardu AD, perusahaan iklan yang memproduksi banyak iklan untuk televisi nasional bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Titik Balik Kehidupan dokter Gideon Hartono

Pada waktu itu, mencari apotek yang buka di malam hari masih sangat sulit karena umumnya apotek hanya buka sampai sore hari saja. Jikapun terdapat apotek yang masih buka, maka harga obatnya juga tergolong mahal. Melihat fenomena tersebut, hati dokter Gideon Hartono mulai terusik, terlebih karena ia mengalami sendiri kesulitan mencari obat karena tak ada apotek yang buka di malam hari sementara sanak keluarganya menderita sakit yang harus segera diobati.

Hal ini kemudian menimbulkan ide sederhana di benak dr. Gideon untuk memulai bisnis apotek yang dapat melayani masyarakat setiap dibutuhkan, dengan ragam obat yang komplit dan harga obat yang sama baik pagi malam, maupun hari libur (sabtu dan minggu).

Ide bisnis ini kemudian melahirkan sebuah usaha bernama Apotek K-24 untuk menunjukkan identitas sebagai apotek yang komplit obatnya,dan buka selama 24 jam.

Cerita Perjalanan Bisnis Apotek K-24

Dari bisnis fotografi itu pula, Gideon menginvestasikan dana sebesar Rp 400 juta untuk membangun satu outlet apotik K-24.

Ketika ia memutuskan untuk membuka usaha apotek yang buka selama 24 jam di Jogja, ia sama sekali tidak mengawali dengan riset pasar. Ia juga tidak ambil pusing, apakah apotek yang dijalankannya bakal berhasil diterima masyarakat atau tidak. Yang jelas, Gideon hanya mengandalkan nalurinya sebagai seorang pebisnis. Nalurinya menyatakan bahwa masih ada peluang besar dalam bisnis apotek di kota pendidikan tersebut.

Ternyata insting bapak dua anak ini memang terbukti tajam. Nyatanya, ketika ia mengibarkan bisnis apotek dengan bendera K-24, sambutan masyarakat cukup bagus. Sejak dibuka pertama pada 24 Oktober 2002, jumlah pengunjung terus mengalami peningkatan. Pada tiga bulan pertama, sambutan masyarakat memang belum begitu terlihat. Tapi memasuki tiga bulan kedua, konsumen yang datang menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan.

Keberhasilan apotek pertama yang didirikan di kawasan Jl. Magelang, Jogja tersebut memacu semangatnya untuk mendirikan apotek sejenis di tempat lain. Selama tahun 2003, tepatnya pada 24 Maret dan 24 Agustus, dia membuka dua outlet K-24 lagi di kawasan Jl. Gejayan dan Jl. Kaliurang. Sementara 24-Februari lalu, ia memberanikan diri menebarkan sayap ke kota Semarang, Jawa Tengah untuk membuka outlet yang sama.

Agaknya, tanggal 24 bagi Gideon telah menjadi tanggal “keramat”. Nyatanya, setiap kali membuka outlet baru, selalu dilakukan pada tanggal 24. Bahkan gajian karyawan juga dilakukan pada tanggal tersebut.

“Setiap membuka outlet baru, saya memang memilih tanggal 24, demikian pula dengan gajian karyawan, kalau tanggal 24 jatuh hari minggu gajiannya dimajukan bukan dimundurkan. Tapi semua itu tidak ada hubungan dengan hongsui karena saya tidak percaya hong sui ” kata dokter puskesmas Gondokusuman II.

Bapak dua anak yang berstatus sebagai dokter umum ini, mengaku tidak mengira bila apotek yang didirikannya bakal berkembang sedemikian cepat. Pada tahun 2013, ia bahkan mendapat penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena apotek K-24 dimasukkan sebagai apotek jaringan pertama yang sejak dibuka selama 24 jam, 365 hari tanpa mengenal tutup maupun libur dengan harga yang sama baik siang, maupun malam, baik hari kerja maupun hari libur.

Menurut Gideon, ia tidak mengira jika potensi pasar apotek di Jogja dan Semarang, ternyata masih sedemikian besarnya. Ia mengaku omset setiap outlet yang dikelolanya terus menunjukkan angka kenaikan. Pada tahun 2013, setiap outlet rata-rata perbulan, berhasil mencatat transaksi antara 350-500 items obat , dengan nilai penjualan antara Rp 250-300 juta.

Gideon mengaku tidak mengambil keuntungan besar dari obat yang dijualnya. Ia mengambil keuntungan dari omset penjualan. Padahal kalau ia mau, ia mendapat margin yang cukup besar dari distributor antara 20-40 persennya. Tapi margin keuntungan itu, akunya tidak dia ambil semua,”Saya hanya mengambil yang sekitar 17 hingga 25 persen saja, sisanya biar konsumen yang menikmati,” paparnya.

Menurut Gideon, dia menggeluti apotek tidak selamanya berorientasi profit. Ada idealisme yang ingin ia wujudkan melalui apotek tersebut, antara lain memberikan pelayanan masyarakat untuk mendapatkan kemudahan mencari obat.

Karena itulah, ia berencana untuk membuka outlet K-24 sebanyak-banyaknya.

Penghargaan Apotek K-24

Penghargaan sejak dibuka hingga saat ini sangat banyak, berikut adalah pernghargaan terkini pada tahun 2015, “Indonesia WOW Brand 2015” , “Indonesia Franchise Marketing Award (IFMA) 2015” untuk tiga (3) kategori yaitu : The Best Corporate Social Responsibility (CSR) Programs, The Best Website Concept, dan The Best Word of Mouth (WOM) Marketing.

Indonesia Most Reputable Healthcare Brand 2015″  , “Brand Champion Indonesia Middle Class Consumers’ Choice 2015”, TOP Brand 2015″ dan Digital Marketing Award 2015″

Gideon sendiri memperoleh penghargaan bergengsi untuk kawasan Asia Pasifik yakni Asia Pacific Entepreneurship Awards VIII tahun 2015.

Perkembangan saat ini dan karir singkat Gideon setelah Membangun Apotek K-24

Setelah sukses membangun Apotek K-24, Pria kelahiran Jogjakarta  52 tahun silam ini terus  berusaha  mengembangkan usahanya dibidang kesehatan, dan pendidikan.

Tahun 2007, mendirikan laboratorium klinik Hi Lab Diagnostic Center.

Tahun 2011, mendirikan PT Ka Dua Empat atau KDE yang merupakan perusahaan distribusi farmasi – Perdagang Besar Farmasi (PBF) di Yogyakarta.

Tahun 2013 melalui Yayasan Pelita Bangsa alumni Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta angkatan tahun 1990 ini mendirikan SMK Kesehatan Pelita Bangsa di Yogyakarta, kemudian dalam tahun yang sama mendirikan PT Brilian Dinamik Gumilang perusahaan yang bergerak di bidang  teknologi informasi (IT) dan Software Development dengan merek “ Bridge Healthcare System Solution “.

Pada tahun  2014 bersama teman-temannya  dokter spesialis mata mendirikan Klinik Mata Sehati. Th 2015 merintis pabrik obat “ Odixa Pharma Laboratories ”, Klinik Kecantikan “Ergia Klinik Skincare & Research” dan Klinik JKN Plus, Pusat Vaksinasi Dewasa, dan Hemorhoid Center.

Ditengah kesibukannya mengelola berbagai usaha di bidang kesehatan dan pendidikan ini  dr. Gideon Hartono juga aktif dalam organisasi sosial dan profesi sebagai Bendahara Palang Merah Indonesia DIY, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Nasional Budya Wacana. Selain itu juga sebagai penasehat  Gabungan Pengusaha Farmasi Daerah istimewa Yogyakarta.

Apakah kisah ini menginspirasi para bidhuaners? klik like fan page facebook bidhuan dan twitternya untuk terus mengikuti perkembangan terbaru dari bidhuan.com.