IDI Kesal, Vaksin Palsu Buat Dokter Tidak Bersalah Jadi Korban

0
207
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Bidhuan.com – Dibukanya berbagai nama Rumah Sakit belakangan ini membuat banyak tindakan anarkis timbul. Dalam tindakan tersebut tak jarang pula Dokter yang tidak bersalah pun ikut menjadi korban. Hal ini pun di respon tegas oleh Asosiasi Rumah Sakit Indonesia (ARSI), Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan melayangkan protes akan hal itu pada pemerintah.

Padahal pada kasusnya, tak semua dokter bersalah akan penggunaan vaksin palsu tersebut.

Berbagai tindakan anarkis baru-baru ini tak hanya sebatas pada bangunan fisik, bahkan dokter yang sedang bertugas dan tak tahu apa-apa pun kerap kali jadi korban, kata Ilham Oetama Marsis yang merupakan Ketua Pengurus Besar IDI saat jumpa pers pada Senin (28/07/2016).

Tindakan-tindakan anarkis tersebut menurutnya mulai terjadi tak lama setelah daftar Nama Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan yang jadi pengguna Vaksin Palsu dibuka oleh Bareskrim Mabes Polri & Kementerian Kesehatan RI.

[Baca : Akhirnya Kemenkes Bongkar Daftar Lengkap 14 Nama Rumah Sakit Pengguna Vaksin Palsu ]

Misalnya saja seperti tindakan anarkis serta kekerasan yang terjadi di Rumah Sakit Harapan Bunda (15/07/2016). Selain itu pada hari berikutnya tindakan anarkis pun kembali terjadi di RS Santa Elisabeth Bekasi dan RSIA Mutiara Bunda Ciledug di hari yang sama.

Tentu hal itu menyebabkan timbulnya keresahan di berbagai kalangan tenaga kesehatan dan Dokter itu sendiri. Bahkan, dokter yang tidak pernah punya hubungan apapun saat pembelian vaksin dilakukan kerap kali ikut jadi korban berbagai tindakan anarkis tersebut.

Kepercayaan masyarakat terhadap Dokter pun bisa mulai berkurang gara-gara kasus vaksin palsu ini dan punya potensi memberi dampak yang buruk baik saat ini maupun masa depan.

Munculnya Dokter dalam daftar tersangka yang diumumkan Bareskrim Mabes Polri pada kasus vaksin palsu pun ikut menambah kegelisahan. Seharusnya, perlu dijelaskan lebih jelas lagi mengenai dokter pada daftar tersebut, apakah posisinya merupakan korban dari beredarnya vaksin palsu atau memang pelaku, kata Ilham.

[Baca juga :Sejak 2010 Pasar Pramuka jadi Tempat Dokter Beli Vaksin Palsu ]