Membedah “Rahasia Dapur” Industri Farmasi di Indonesia

0
1840
industri

Praktisi dunia Industri di Indonesia, Bambang Priyambodo yang juga saat ini sebagai Senior Plant Manager PT. Rama Emerald Multi, Jawa Timur sedikit membagikan pemikirannya melalui akun facebook pribadinya tentang Membedah “Rahasia Dapur” Industri Farmasi di Indonesia.

Tulisan Pria lulusan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1994 ini dimulai dengan membagikan data dan fakta mengenai kondisi Industri Farmasi di tanah air.

industri

Industri farmasi di Indonesia menjadi salah industri strategis yang sangat penting bagi negeri ini. Bukan saja dari nilai-nya yang lumayan besar (data tahun 2015 sebesar Rp. 60 Trilyun – yg merupakan pasar farmasi TERBESAR di kawasan ASEAN). Bukan pula sebagai salah satu industri yang menjadi lokomotof pertumbuhan ekonomi nasional dimana pertumbuhan pasar farmasi jauh melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.

industri farmasi

Rata2 pasar farmasi tumbuh 12 – 13% pertahun. Bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang “hanya” mencapai 5-6% pertahun. Namun lebih dari itu, industri farmasi memegang peranan sangat penting dalam mengangkat derajat kesehatan masyarakat yang pada gilirannya merupakan salah satu indikasi dari tingkat kesejahteraan penduduk suatu negara. Bahkan dalam perkembangannya, bukan saja melibatkan aspek sosial dan aspek ekonomi, namun juga merambah aspek politis dan geostrategis suatu bangsa. Seperti yg terjadi saat ini, di mana 40% kebutuhan obat generik Amerika Serikat dipasok dari India, tiba2 saja para pegawai US FDA menjadi “begitu rajin” menyambangi pabrik2 di India.

industri farmasi

Selama 2 tahun terakhir, para investigator FDA tsb hilir mudik dari Mumbai hingga ke negara bagian Punjab di India Utara. Kehadiran para investigator US FDA ini tentu saja membawa “keberangan” kalangan industri farmasi di India. Tidak jarang timbul “perselisihan” yang akhirnya berujung di meja pengadilan…

Industri farmasi di Indonesia, meskipun dalam skala global hanya laksana liliput di tengah raksasa dunia, yaitu hanya 0,44% bila dibanding dengan farmasi global, namun ternyata memiliki peran yang sangat strategis. Dengan jumlah penduduk yg mencapai 250 juta jiwa dan konsumsi obat perkapita yg masih sangat rendah serta pertumbuhan pasar yang sangat tinggi, pasar farmasi di Indonesia merupakan pasar dengan potensi yang sangat luar biasa.

Tidak mengherankan, sejak awal tahun 1970-an, berbondong2 perusahaan farmasi raksasa dunia pun berdatangan di negeri ini. Dipicu berbagai kemudahan investasi pada jaman Orde Baru, mereka pun mulai menanamkan modalnya di Indonesia, bahkan pada awal2 tahun 1980 – 1990-an, industri farmasi asing ini menguasai pasar farmasi di Indonesia. Namun perlahan tapi pasti, perusahaan farmasi nasional yang jauh lebih mengenal “kharakter” pasar Indonesia, mulai menguasai pasar farmasi di Indonesia.

Dengan jiwa dan semangat kewirausahaan yang sangat luar biasa dan dengan dukungan penuh dari pemerintah pada saat itu, sedikit demi sedikit “kue” pasar farmasi nasional dikuasai oleh para pengusaha nasional. Ada banyak cerita “heriok” mewarnai perjalanan para juragan obat ini. Ada yang mulai dari garasi rumah, ada yang dengan modal jual mobil butut, ada yang bermodal jualan salep keliling dan sebagainya.. Pokoknya kalo dibuat buku cerita laksana dongeng seribu satu malam yang gak ada habisnya… he3…

Menapaki tahun 2000-an sangat terasa sekali dominasi perusahaan dalam negeri atas pasar farmasi di Indonesia. Dari 10 besar jawara penguasa pasar farmasi di Indonesia, 9 di antaranya adalah PMDN. Hanya ada 1 perusahaan asing yg bercokol di 10 besar pasar farmasi Indonesia, yaitu Pfizer Indonesia. Di seluruh kawasan ASEAN, Indonesia adalah SATU-SATUNYA negara di mana pasar farmasinya dikuasai oleh perusahaan2 lokal. Hampir 75%, dari total 60 Trilyun pasar farmasi di Indonesia, dikuasai oleh PMDN. PMA hanya kebagian 25% nya saja. Bandingkan dengan Malaysia yng hampir 90%, bahkan Singapura hampir 100% pasarnya dikuasai oleh perusahaan multi nasional. Kita benar2 menjadi “jago kandang” di negeri sendiri.

Agak berbeda dg negara lain, secara garis besar, pasar farmasi di Indonesia terbagi menjadi beberapa segmen. Kalo negara lain, hanya mengenal 2 segmen pasar farmasi, yaitu Ethical dan OTC, pasar farmasi di Indonesia jauuuh lbh kompleks bin ruwet binti mbundet….

Misalnya obat ethical yg harus diresepkan oleh dokter, selain obat ethical yg “sudah umum” juga ada obat OWA (Obat Wajib Apotek) yg boleh diberikan langsung oleh Apoteker di apotek. Belum lagi obat2 dispensing yang diberikan lamgsung oleh dokter2 yg praktek di daerah2 perifer atau praktek bidan dan mantri/perawat. Ada pula obat ethical yg masuk golongan obat trading, misalnya yg dijual di pasar pramuka, entah sasaran/pengguna akhirnya siapa gak jelas. Trus ada pula obat PKD (yg saat ini dimasukan kedalam e-catalog maupun non e-catalog) alias obat2 tender. Ini belum termasuk obat2 yg dijual “putihan” alias non PPN..

Jadi, kalo ada yg ngomong obat di Indonesia MAHAL!, memang iya!
Kalo ada yg ngomong obat di Indonesia sangat MURAH!! memang iya juga!!
Kalo ada yg ngomong obat di Indonesia “gak karu-karuan”!! Ya memang ada juga yang begitu…smile emoticon
Wis embuh pokok-e mbulet tenan koq.. saking banyaknya segmen pasar yang ada di negeri ini….

Obat golongan OTC sendiri ada yang golongan ATL (above the line) alias yang diiklankan di media massa, termasuk tv, radio atau koran2. Ada pula obat OTC yg masuk kategori BTL (below the line) dimana promosi melalui salesman/girl, sponsor event tertentu, “gerilya” ke pasar2 atau swalayan.. dan tentu saja masing2 punya “jurus2” tersendiri agar bisa dikenal dan laku di pasaran. Kadang ada pula produsen obat OTC yg “numpang beken” dengan produk yg sedang diiklankan habis2an oleh pabrik lain. Pokoknya semua jurus dikeluarkan agar produk tetap exist dan jualan laku keras…

Kharakter orang Indonesia yang suka latah, juga dimanfaatkan oleh para produsen obat ini. Begitu tahu obat tertentu laku, misalnya ****joss, semua orang bikin joss-joss-joss… Obat ****angin laris manis, semua bikin macem2 yg berbau “angin”… dan masing2 punya segmen yg berbeda…

Jadi, tidak mengherankan, dengan kharakter masyarakat Indonesia yang sangat “unik” ini, perusahaan farmasi asing di Indonesia “kelimpungan” mencari strategi yang pas. Belum lagi “birokrasi” yg mengharuskan mereka melaporkan semua strategi pemasarannya ke perusahaan induk mereka. Itu pun blm tentu disetujui oleh induknya. Sementara perusahaan lokal relatif lebih gesit, lebih lincah dan lebih paham terhadap kharakter bangsa ini. Termasuk kharakter bagaimana kalau ikut tender, bagaimana supaya obatnya diresepkan dokter, bagaimana obatnya bisa masuk formularium suatu rumah sakit dsb.. dsb.. You know what I mean-lah… he3…

Untuk yg golongan OTC, dengan modal kecil bahkan tanpa modal sama sekali, cukup dengan “ndompleng” obat2 yang lagi laris di pasaran.. mereka pun ikut “menangguk” manisnya euforia masyarakat yg sedang gandrung dengan hal2 tertentu. Apalagi ditunjang dengan tingkat pendidikan agak rendah, mereka dg mudah “menyesatkan” masyarakat dengan merek2 yg dibuat agak2 mirip dengan si pionir yg menghabiskan biaya milyaran rupiah untuk beriklan di berbagai media massa.. Asyik-kan… he3..

Dengan berbagai “keunikan”, keruwetan dan begitu luasnya segmen farmasi di Indonesia, kiranya mudah dipahami bahwa perusahaan multi nasional yg sudah sangat establish, akan sangat kesulitan menembus pasar farmasi di Indonesia. Apalagi kalo kita melihat “peta” persaingan di era JKN ini makin sulitlah bagi perusahaan asing tsb untuk bisa tetap exist. Dan kalau pada akhirnya mereka mengibarkan “bendera putih” artinya memang mereka menyadari bahwa mereka tidak akan pernah memenangi pertempuran yang tidak pernah mereka mengerti sepenuhnya… Lebih baik mundur daripada babak belur….
Wallahua’alam…

Dihubungi bidhuan, Bambang berpesan kepada para Apoteker dan kalangan industri farmasi di tanah air terutama mengenai kondisi persaingan yang semakin tidak terkontrol saat ini.

“Banyak hal terkait dengan “ruwet“nya industri Farmasi di Indonesia. Ada banyak hal yg harus dibenahi. Terutama menyangkut “perlindungan” konsumen yg terus terang makin membuat hati “miris” karena persaingan yg makin “menggila” ini” kata pria yang aktif menulis di blog priyambodo1971.wordpress.com dan juga saat ini aktif mengajar sebagai dosen tamu di Program Studi Profesi Apoteker UII Yogyakarta, PSPA Fakultas Farmasi Universitas Jember dan Universitas Tanjungpura, Pontianak.

“Persaingan itu bagus, tetapi kalau sudah menjurus ke hal-hal negative, di khawatirkan akan membawa dampak negative juga bagi masyarakat.” tutupnya.