Foto dan Video Serta Kesaksian Korban Turbulensi Pesawat Etihad EY 474

0
845
insiden turbulensi

Foto dan Video Serta Kesaksian Korban Turbulensi Pesawat Etihad EY 474. Pada Rabu, 4 Mei 2016, insiden turbulensi hebat terjadi pada pesawat Etihad EY 474 dengan rute Abu Dhabi-Jakarta. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 13.40 di ketinggian 5000 kaki, saat pesawat tengah berada di langit Sumatera.

Dilaporkan sebanyak 31 orang dan awak kapal terluka, selain itu maskapai Etihad membatalkan penerbangan EY475 dari Jakarta ke Abu Dhabi pada hari yang sama. Etihad Airways juga telah mengirimkan tim bantuan dari markasnya di Abu Dhabi untuk membantu penumpang terkait pembatalan itu.

Seorang penumpang Dewi Rachmayani melalui akun facebooknya memposting pengalaman pribadi lengkap dengan foto dan videonya yang wajib untuk diketahui bidhuaners sebagai pengalaman.

ETIHAD 474

Dulu pernah kena turbulensi, tapi ini kali pertama ngalamin turbulensi hebat, di dalam pesawat Etihad EY 474, rute Abu Dhabi – Jakarta. Peristiwa ini terjadi Rabu sekitar pukul 13.40 di ketinggian 5000 kaki, saat pesawat tengah berada di langit Sumatera.
Beberapa orang sedang tidak menggunakan seatbelt. Ada yg hendak ke toilet, ada yg sedang makan snack, ada juga yg baru pertama kali naik pesawat sehingga merasa tidak nyaman memakai sabuk pengaman.

Kepala rombongan biro umroh tempat saya gabung, Pak Asep Holid, malah sedang keliling dari kursi ke kursi, ngingetin jemaah untuk sholat.
Saya pun sekitar 2 menit sebelum turbulensi, hampir bangkit untuk ke toilet. Tapi batal karena berpikir, “Kondisi toilet di pesawat pasti udah gak sedep, secara udah terbang 7 jam. Nanti aja lah di bandara Soetta”.

Tak lama, pesawat alami turbulensi. Pesawat penuh oleh jerit ketakutan, tangisan dan teriakan “Allahu Akbar”.
Beberapa koper berjatuhan dari laci kabin menimpa penumpang. Beberapa orang terlempar menghantam atap dan terbanting ke lantai. Begitu berkali-kali.
Kebetulan saya dan suami terikat seatbelt. Cuma bisa teriak Allahu Akbar dan berdoa untuk keselamatan seluruh penumpang.

Di tengah turbulensi, pikiran buruk sempat terlintas, “Jadi seperti ini rasanya sebelum pesawat jatuh”.

Saat goncangan semakin hebat, yang terpikir, “This is it. This is the time”. Wajah Syamil dan Gilang langsung terbayang 😭😭😭

Allah Maha Besar. Allah Maha Penyayang….
Setelah tergoncang 5 – 10 menit, pesawat akhirnya selamat melewati turbulensi.
Sesudahnya, kondisi di kabin kacau. Beberapa penumpang yg tidak memakai seatbelt, bergelimpangan di lantai, beberapa melintang di atas senderan kursi.
Pemandangan yang sempat membuat takut, “Hidupkah mereka?”
Alhamdulillah, semua berhasil keluar hidup2 dari turbulensi ini.

Pak Asep yang sedang keliling mengingatkan jemaah untuk sholat, juga sempat terlempar. Alhamdulillah ia tidak luka, “Belasan tahun saya bawa jemaah ke tanah suci, baru sekarang ngalamin kaya gini. Pas selesai tadi, saya langsung nangis. Alhamdulillah Allah masih kasih selamat”.

Dampak goncangan, 30-an orang terluka. 9 penumpang yang alami luka berat jalani perawatan medis di RS Pantai Indah Kapuk. Beberapa, termasuk penumpang yg alami patah tulang, kini diopname.

Menurut salah seorang pramugara Etihad (menolak dipublikasi foto dan namanya), “Being a flight attendant for 15 years, this is my first time experiencing something like this”. Pramugara ini, sebut saja Mr Etihad, pingsan saat goncangan berlangsung. Ia dibangunkan oleh rekan saya Yerri, yg kebetulan posisinya dekat Mr Etihad yg sedang keliling mengedarkan snack ke penumpang saat turbulensi dimulai.

“I blackout twice up there, he helped me”, Mr Etihad ketika kami sudah berada di dalam bandara Soetta, sambil menunjuk Yerri.

“Dia hebat banget Mba, abis pingsan dia langsung bangun dan nolongin penumpang”, tutur Yerri tentang Mr Etihad.

“Dia kru yg paling sibuk nolongin penumpang. Pas keluar pesawat, di pintu aku sempet bilang ke dia…You are my hero Sir”, suami saya tentang Mr Etihad.

Awak pesawat lain, juga luka. Wajah beberapa pramugari penuh darah. Sebagian besar pramugara/pramugari memang sedang mengedarkan kudapan tepat sebelum pesawat mengalami goncangan.

Sempat bertanya kepada seorang pramugari Etihad setelah kejadian, tentang kemungkinan pesawat menghindari turbulensi. Jawabnya, “According to the pilot, the radar cannot detect this one”.

14.30, pesawat mendarat di bandara Soetta. Teriakan Allahu Akbar kembali memenuhi kabin. Kali ini teriakan bahagia, teriakan penuh syukur.

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR

Kita tidak pernah siap menghadapi situasi seperti ini. Tuhan pasti punya alasan memberi kami, 262 penumpang, kesempatan mengalami sendiri peristiwa ini.
Usai turbulensi, gak mau macem2. Cuma ingin jadi orang yg lebih bener, lebih deket sama keluarga, terutama…lebih dekat denganNYA.
*SujudSyukur*

Berikut adalah foto dokumentasi pribadi dan videonya