Penjelasan Kemdikbud Mengapa Harus Hari Kartini Bukan Cut Nyak Dien

0
1015
Penjelasan Kemendikbud Megapa Harus Hari Kartini Bukan Cut Nyak Dien

Penjelasan Kemdikbud Mengapa Harus Hari Kartini Bukan Cut Nyak Dien. Media sosial hari ini (21/4) dihiasi dengan timeline Hari Kartini dan banyak diperbincangkan hingga menjadi trending topik di media twitter.

Namun ada yang unik ketika sebagian Netizen menanyakan mengapa pahlawan perempuan Nasional lainnya tidak ikut dikenang dan dirayakan seperti saat ini. Cut Nyak Dien, sebagai contohnya.

Oleh karenanya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam akun twitternya merasa perlu untuk memberikan klarifikasi melalui akun twitter pribadinya terkait dengan hal ini. Bahkan #MenggugatKartini sempat menjadi bahan perbincangan Netizen.


Sbnrnya hakikat peringatan Hari Kartini tidak hanya untuk mengingat perjuangan Kartini, melainkan juga perjuangan wanita lain. 

Siapa sosok Kartini yang misterius itu? Kenapa dia bisa menghipnotis dunia dengan tulisannya? Kartini pun identik dengan Jawa-sentrisme. 

Kartini hidup di zaman dimana perempuan tidak diperlakukan sebagai subjek. Kartini adalah objek. Ia dipingit, padahal ia ingin tetap bersekolah. 

Kartini adalah anak dari Bupati Jepara. Dia pintar dan penurut. Prempuan ningrat yang mampu sekolah di ELS, sekolah favorit pro Belanda. 

Kartini mampu berbahasa Belanda. Banyak membaca koran-koran/majalah-majalah Belanda. Pengetahuannya luas,menembus cakrawala hingga ke Eropa. 

Kartini juga sangat bersemangat melanjutkan skolahnya ke Eropa. Tapi ia harus tunduk pada tradisi Jawa. Dipingit,dan dipaksa menikah. 

Jika dibanding pejuang perempuan lainnya, jangankan melawan Belanda, melawan orang tua adalah pantangan baginya. Jadi apa perjuangannya?

Kartini muncul di pentas dunia karena perjuangannya melalui tulisan. Ia menuangkan pikiran, gagasan, bahkan perasaannya dengan tulisan. 

J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan Hindia-Belanda saat itu, membukukan surat-surat Kartini yangg ditujukan untuk teman-temannya di Eropa. 

Buku kumpulan surat-surat Kartini itu menggegerkan dunia. Kartini secara politis dimunculkan sebagai tokoh sentral perjuangan perempuan. 

Hal itu membuat Kartini terlihat hebat, melebihi pejuang prempuan lain sebelum Kartini, yang berperang melawan Belanda hingga mati. 

Ada perbedaan antara Kartini dengan pejuang perempuan lainnya. Kartini terdidik pemahaman global dengan bahasa Belandanya yang fasih. 

Sementara pejuang perempuan lainnya berperang,memegang senjata,bahkan memimpin pasukan mengusir penjajah Belanda hingga mati. 

Sesungguhnya jika dibaca surat-surat Kartini, perjuangannya untuk dirinya terkungkung adat Jawa yang mengekangnya. Itulah curhatannya. 

Apa yang dilakukan Kartini adalah “perjuangan” untuk mengisi kejenuhan dan kekosongan waktu. Dia mengajar,menjadikan orang lain terdidik. 

Setiap perempuan adalah pejuang. Tapi perjuangannya dengan cara yg berbeda-beda. Mari kita hargai dan rayakan semua bentuk perjuangan.

Jika kita tidak memahami sejarah bagaimana republik ini didirikan dengan darah dan air mata para pejuang, kita bisa semena-mena dan mudah menghancurkan negara ini.

Kartini memang sebagian kecil dari begitu besar kekayaan budaya dan sejarah Indonesia. Karena itu perlakukan Kartini dengan bijak dan tidak berlebihan :)


Ternyata tulisan bisa ikut mengubah perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Oleh karenanya, bidhuan.com akan mencoba semakin dewasa dan membantu Indonesia agar lebih maju dan terdepan terutama di bidang kesehatan melalui tulisan-tulisan yang dimuatnya.