Obat Demam Berdarah Pertama di Dunia Temuan UNAIR Siap Diedarkan

0
1357
obat demam berdarah

Obat Demam Berdarah Pertama di Dunia Temuan UNAIR Siap Diedarkan. Walau masih dalam bentuk ekstrak atau obat dari bahan herbal (Fitofarmaka) setidaknya tim Institute of Tropical Disesase (ITD) dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya selangkah di depan dari peneliti University of Quensland dari Australia yang juga sedang mengembangkan obat Demam Berdarah Dengue.

Profesor dari UQ’s School of Chemistry and Molecular Biosciences , Paul Young mengatakan para penelitinya telah mengidentifikasi kesamaan ketika tubuh bereaksi terhadap virus dengue dan infeksi bakteri, dalam sebuah temuan yang akan memungkinkan untuk menemukan obat dengue pertama di dunia.

“Kami telah menemukan bahwa virus dengue NS1 protein bertindak sebagai racun dalam tubuh, dengan cara yang mirip dengan cara bakteri memproduksi dinding sel yang menyebabkan syok septik infeksi bakteri,” katanya dikutip dari www.uq.edu.au September 2015.

Dikutip dari jawa post yang kemudian ditulis ulang goodnewsfromindonesia.org, Indonesia saat ini yang memasuki musim penghujan harus lebih wapada terhadap penyakit-penyakit yang disebarkan oleh nyamuk. Banyaknya genangan air tentu saja mempengaruhi jumlah populasi serangga penghisap darah ini.

Selain mengakibatkan gatal, nyamuk juga memiliki potensi untuk membawa virus-virus berbahaya. Virus tersebut dapat menyebar bila dan menjangkiti kawan GNFI bila tidak waspada. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tidak hanya menyebabkan demam, namun juga dapat mengakibatkan kematian.

Upaya menangkal DBD pun banyak dilakukan para peneliti dan tenaga kesehatan. Hingga kabar menggembirakan datang dari Surabaya. Diberitakan bahwa ternyata tim Tim Institute of Tropical Disesase (ITD) dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya berhasil menemukan obat demam berdarah (DB). Obat tersebut bahkan sudah lolos uji klinis tahap ketiga. Itu berarti, obat tersebut telah diujikan kepada pasien DB.

“Sekarang tinggal menunggu izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) agar bisa dinikmati publik,” kata Diresktur Utama Airlangga Health Science Institute (AHSI) Prof Dr Nasronudin SpPdKPTI seperti dikutip dari Jawapos (29/1).
AHSI adalah lembaga yang menaungi ITD. Dia menjelaskan obat tersebut merupakan hasil riset tim ITD yang bekerja sama dengan pihak swasta.

Obat yang diberi nama Malaleuca Alternifolia Concentrate (MAC) tersebut berbentuk kapsul berwarna putih dan ungu. Dilihat dari kemasannya, obat itu sudah siap dipasarkan. Kemasannya mirip dengan obat lain di pasaran. Di bagian luar kardus kecil terdapat keterangan tentang komposisi dan aturan pakai. “Ini untuk dewasa yang untuk anak-anak berupa sirup,” ucap Nasronudin.

Dia menjelaskan obat tersebut berasal dari ekstrak tumbuhan Melaluca alternofolia yang berasal dari Australia. Tumbuhan itu biasa hidup di daerah dingin.

“Sekarang tanaman ini sudah dikembangkan di Jawa Tengah. Jadi, Bahannya tidak perlu impor,” tuturnya.

Pria yang pernah menjabat keuta ITD itu mengatakan, pada 2012-2013 yang lalu telah dilakukan pengujian pada 530 pasian DB. Separo pasien diberi obat itu dan separo lagi diobati sesuai standar selama ini. Hasilnya, mereka yang mendapat asupan obat ternyata lebih cepat sembuh. Suhu tubuh mereka cepat turun. Gejala DB seperti mual dan muntah juga hilang dengan cepat. “Sementara yang tidak diberi obat, waktu sembuhnya lama,” katanya.

Pengujian labotartorium juga telah dilakukan tim ITD. Hasilnya positif, Trombosit pasien DB yang diitervensi obat tersebut tidak terlalu turun. Hal tersebut dianggap baik karena dapat mencegah terjadinya pendarahan yang umum terjadi pada pasien demam berdarah. Selain itu virus dengue yang ada pada pasien DB yang mengonsumsi obat tersebut berangsur hilang sehingga ketika nyamuk Dengue menggigit penderita DB, virus dengue tidak akan terbawa.

Dampak lain dari obat tersebut pada pasien adalah kekebalan tubuh juga turut meningkat. Hal tersebut dipercaya terjadi karena ada pembentukan imunomodulator atau senyawa yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

“Jadi, pasien DB yang sudah minum obat tersebut tidak akan menularkan virus dengue saat digigt nyamuk,” terangnya.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pendidikan Unair tersebut menjelaskan bahwa obat temuan tim ITD tersebut tidak bersifat toksisitas atau beracun bagi tubuh. Itu diketahui saat dilakukan penelitian pada hati dan ginjal pasien yang mengonsumsi obat tersebut. “Kondisi hati dan ginjal mereka masih baik,” katanya.

Meski demikian bagi pasien yang divonis masuk kategori shock dengue mengharuskan dilakukan upaya pemulihan terlebih dahulu. Setelah kondisi pasien dinyatakan tidak gawat, barulah obat tersebut boleh diminumkan. Obat tersebut dianggap penemuan baru, bahkan juga diklaim menjadi yang pertama di dunia yang telah sukses diujikan pada pasien.

Selama ini, pasien DB diobati hanya dengan menstabilkan cairan pada tubuh. Sebab, pasien biasanya kekurangan cairan karena sering muntah dan tidak nafus makan. Terapi, yang dilakukan tim dokter juga masih menyesuaikan dengan gejala yang timbul. Pasien DB yang demam akan diberi obat penurun panas, sedangkan yang kekurangan asupan cairan diatasi dengan infus.

Dalam dunia medis, DB terbagi menjadi empat jenis. Biasanya, jenis DB di satu wilayah berbeda dengan wilayah lain. Perbedaan tersebut dianggap cukup menyulitkan dalam penanganan pasien. Berkat penemuan obat dari ekstrak Melalueca alternifolia ini, nantinya penanganan segala jenis demam berdarah dapat teratasi.

Nasronudin berharap angka pendeira DB bisa turun saat obat tersebut diproduksi masal. Meski demikian, kepala RS Unair itu tetap menyarankan masyarakat agar menggiatkan program pemberantasan sarang nyamuk. “Biar ke depan DB tidak ditemukan lagi,” pungkasnya.

Sebelum di produksi masal, penelitian di Australia lebih fokus terhadap mekanisme senyawa obat yang terbukti secara klinis bisa menyebabkan virus dengue menyerang tubuhnya. Ada kemungkinan senyawa ini berasal dari tanaman yang sama.