Mungkinkah Indonesia Jadi Pusat Industri Farmasi di Asia Tenggara?

0
574
Indonesia Kini Jadi Pusat Industri Farmasi di Asia Tenggara
Indonesia Kini Jadi Pusat Industri Farmasi di Asia Tenggara

Bidhuan.com – Kabar baik datang dari investor asing yang menginginkan Indonesia untuk jadi pusat Industri Farmasi di Asia Tenggara. Hal ini tentu akan membawa keuntungan bukan hanya bagi investor namun juga bagi Negara Indonesia. Dengan adanya kerjasama ini akan membuat terjangkaunya harga obat-obatan di Indonesia. Karena sebagai mana kita tahu, bahwa saat ini berbagai jenis obat-obatan di Indonesia dalam melakukan penetapan harganya sesuai dengan kurs dollar sehingga lebih mahal dan tidak stabil.

Hal ini disampaikan langsung oleh Franky Sibarani, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang mengatakan bahwa investor Cina dan investor Korea Selatan berminat untuk menanamkan modal di Negara Indonesia dalam sektor farmasi dan akan menjadikan Negara Indonesia menjadi pusat farmasi di Asia Tenggara.

“Dalam sektor farmasi, Negara Cina dan Negara Korea telah melihat Negara Indonesia sebagai ‘hub’ di ASEAN,” kata Franky Sibarani, di Jakarta.

Dari Negara Korea Selatan sendiri, mengaku tertarik untuk membuka pabrik bahan baku obat dan juga sekaligus membangun sebuah pusat riset di Negara Indonesia dengan senilai 95 juta dollar AS atau setara Rp1,1 triliun, jika dihitung dengan kurs Rp12.500. Sedangkan negara Cina / Tiongkok dari catatan Kementerian Perindustrian juga telah menyampaikan keinginannya untuk berinvestasi dalam bidang industri farmasi yang berupa obat-obatan.

Franky menjelaskan, alasan dari dua negara tersebut untuk menyasar Indonesia adalah sebagai berikut :

  • Alasan pertama, yaitu karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbilang besar dan telah tercakup dalam program BPJS Kesehatan.
  • Alasan kedua, karena adanya komitmen dari Presiden Jokowi untuk dapat mengembangkan industri farmasi di dalam negeri sendiri, seperti tersedianya alat kesehatan yang memadai serta untuk mendorong keterjangkauan harga dari obat di dalam negeri. Selain itu, dengan menjadi pusat industri farmasi dapat meningkatkan daya saing ekspor seperti yang telah tertuang dalam Paket Kebijakan Ekonomi ke-11. [Baca: Pengembangan Industri Farmasi dan Alkes Termasuk Paket Kebijakan Ekonomi XI]

“Investor umumnya mengaku lebih nyaman bermitra dengan yang sudah eksisting, walaupun memang ada yang mau hingga 100 persen,” ujar Franky Sibarani kembali.

Selain dari negara Cina dan Korea Selatan, negara lainnya yang kini juga tengah menyasar untuk masuk dalam sektor farmasi adalah Negara Inggris dan Amerika Serikat  melalui peningkatan investasi dari sebelumnya.

Sektor farmasi kini telah terbuka 100 persen untuk investor asing yang ingin menanamkan modal, padahal dulu hanya dibatasi maksimal 85 persen

Kini industri farmasi Indonesia telah mengalami peningkatan 6 % setiap tahunnya, tentunya hal ini akan lebih meningkatkan kompetisi, yang artinya merupakan waktu yang ideal bagi para pelaku industri farmasi internasional dan juga supplier untuk segera masuk dalam pasar ini.