Fenomena Seminar dan Workshop Predator Demi Mengejar Kredit Profesi

0
983
seminar

Fenomena Seminar dan Workshop Predator Demi Mengejar Kredit Profesi. Akun facebook Saldy Yusuf menulis status yang menarik untuk dibaca terkait dengan maraknya Jurnal Predator di bidang akademik yang dihubungkan dengan seminar dan workshop dimana hanya menjual Satuan Kredit Partisipasi (SKP) profesi kesehatan untuk para pesertanya.

Berikut adalah tulisan lengkapnya dengan judul “SEMINAR DAN WORKSHOP PREDATOR,
Catatan dari Panggung Sandiwara Akademik”.

Sebelum membahas seminar dan workshop predator, saya ingin menguraikan “JURNAL PREDATOR” karena konteks Predator dalam kedua panggung akademik ini sama.
Ditengah tuntutan akademik untuk bisa segera selesai tepat waktu ataupun tuntutan jabatan fungsional untuk mengejar kenaikan pangkat akademik hingga guru besar, hadirlah Jurnal Predator yang dipandang sebagai dewa penyelamat yang sesungguhnya adalah candu dalam dunia akademik.

Jurnal Predator atau sebagian kita mengenalnya Jurnal Palsu (meski sebenarnya tidak ada istilah Jurnal Asli) adalah Jurnal yang praktis tidak melakukan proses editorial (editorial, review, proof reading dst). Cukup anda bayar, maka manuscript anda tidak perlu menjalani proses editorial dan dalam 1-2 bulan artikel anda sudah dimuat dalam Jurnal “berkapsul” Internasional. Jurnal Predator jelas bentuk patologi dalam panggung akademik. Alhamdulillah DIKTI sudah mulai mengendus patologi ini dan memberikan warning untuk tidak mengakui kredit point dari Jurnal Predator. Sayangnya prinsip ekonomi, adanya kebutuhan antara kedua belah pihak (peneliti dan penerbit), Jurnal Predator semakin eksis.
Bagaimana dengan Seminar dan Workshop Predator

Tuntutan organisasi profesi (Keperawatan red.) kepada anggota untuk mempertahankan dan meningkatkan keilmuan dalam kemasan kewajiban 25 SKP per lima tahun adalah sebuah kebijakan yang luar biasa dan perlu dikawal. Sayangnya, kemasan 25 SKP inipun kemudian dipandang sebagai jualan menarik bagi event organizer (EO). Tidak heran bila wall-wall group berisi tawaran menghadiri Seminar dan Workshop untuk mendapatkan 1-2 SKP bagi peserta. Sehingga setidaknya untuk bisa mengumpulkan 25 SKP per tahun, minimal harus ikut Seminar atau Workshop setiap dua bulan. Kewajiban akumulasi 25 SKP ini, menjadi magnet yang menarik peserta hingga dari luar provinsi.

Jangan-jangan hanya fitnah Daeng…
Awalnya saya hanya mengendus tanpa bukti. Tapi pernyataan langsung dari kepolosan ketua panitia “tanpa sengaja” kepada saya sudah menjadi alat bukti yang cukup kuat:

“Peserta kami sebenarnya ada 600 orang lebih tapi yang hadir tidak sampai 200, sisanya sertifikat akan kami kirimkan…”

atau kalimat seperti ini:
“…workshop sengaja kami buat setelah ISHOMA pak, jadi peserta sudah tidak banyak, karena kebanyakan sudah pulang sesudah ISHOMA…”

Dan semakin sistematis dengan pernyataan seperti ini:
“…saya pernah melihat hanya satu peserta yang datang ke Makassar, dan membawa pulang puluhan sertifikat…”

Parahnya sudah seperti ini:
“…sekarang peserta tidak perlu lagi datang ke Makassar daeng, karena EO sudah punya perwakilan di beberapa kabupaten untuk “menjual” sisa sertifikat…”

Disinilah patologi dimulai
Seperti pola Jurnal Predator, Seminar dan Workshop berubah menjadi Predator. Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar dari kita masih mengejar sertifikat ketimbang ilmu. Lebih memilih menabung SKP daripada menyerap ilmu. Dari sini saya kembali mengingat kampung saya (Kanazawa) dimana peserta seminar dan workshop tidak diberi sertifikat. Meski panitia mendatangkan seorang expert dengan reputasi internasional, peserta cukup menikmati hiburan panggung akademik dengan sebotol air mineral beli sendiri-sendiri di jidouhanbaiki (mesin) tanpa mengomel karena tidak ada konsumsi dari panitia.

Kembali ke Indonesia, sertifikat dan ijazah bisa dibeli daeng! Ya..betul jangankan sertifikat seminar dan workshop, ijazah S3 saja bisa dibeli termasuk gelar doctor honouris causa. toh, pertanggung jawaban akan jatuh kepada kita masing-masing di padang mahsyar.

Pakta Integritas, apalagi ini?
Seminar dan Workshop predator adalah bentuk “kemungkaran akademik” yang harus segera diamputasi. Untuk itu, memotong mata rantai Seminar dan Workshop Predator, maka kembalikan ke soal integritas ke dua belah pihak (Peserta dan EO).

Bagi saya, saya tidak ingin melibatkan diri ke dalam Seminar dan Workshop Predator dan untuk mengontrolnya panitia dan EO harus bertanda-tangan pakta integritas “tidak akan memberikan sertifikat kepada peserta yang tidak hadir”.
“Itukan cuma tanda-tangan, masih bisa diakali”
Bagi saya janji ini tidak hanya mengikat saya dan EO tapi juga ikatan kepada Allah SWT
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya” SQ. Al-Isra’: 34
“Wah, anda sepertinya terlalu berlebihan daeng, hati-hati nanti tidak ada lagi EO mendekat!”
“Tidak, justru saya yang ingin menjauhkan diri dari EO predator bung!”
Kalau pada Allah SWT saja berani sudah ingkar, untuk apa kita bekerja sama bung!
Mari kembali ke Jalan Lurus

Selain EO yang patologis, ada banyak dan sering bekerja sama dengan saya EO yang fisiologis. Membuat kemasan panggung akademik dengan niat yang tulus diatas jalan yang lurus. Saya pernah berhadapan dengan EO workshop yang pusing memutar kepala karena tidak ada lagi saldo membayar honor narasumber apalagi bagi-bagi komisi ke sesama EO dan panitia. Saya kira Panggung Akademik (Seminar, Workshop , Kongress, dll) adalah sebuah majelis ilmu yang disaksikan Malaikat Rahmat dan bila diniatkan insya Allah menjadi tabungan akhirat yang tidak putus dan kebaikan bagi alam semesta ini.

Menurut keterangan di profil facebooknya, Saldy Yusuf adalah lulusan dari FPIK FK UNHAS dan sempat kuliah di Kanazawa University, Jepang di Clinical Nursing Departement.

Lalu bagaimana dengan fenomena di profesi kesehatan lainnya seperti Apoteker dan Dokter. Adakah seminar dan workshop predator yang hanya mengutamakan sertifikat SKP?