Hindari Info Menyesatkan, Ini Tips Menulis Artikel Populer Untuk Apoteker

0
1053
pada kolom yg sama alinea keempat.

Hindari Info Menyesatkan, Ini Tips Menulis Artikel Populer Untuk Apoteker. Seorang Apoteker memang sebaiknya berusaha untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan bidang kefarmasiannya. Namun, hendaknya sebelum dipublikasikan harus diperiksa terlebih dahulu terhadap keakuratan informasi yang diberikan jangan sampai memberikan informasi yang tidak tepat.

Harian Tribun Jogja pada edisi 24 April 2016, mempublikasikan kolom “Health” dengan judul “Cermati Tanda-tanda Obat Kedaluwarsa” yang ditulis oleh seorang Apoteker.

Seorang Praktisi Apoteker di Industri Farmasi, Bambang Priyambodo memberikan masukan bahwa tulisan yang telah dimuat di koran ini berisi beberapa pernyataan yang dianggap tidak berdasarkan literatur yang ada.

Sebagai contoh, pada kolom KEDUA alinea PERTAMA “Dalam ilmu kefarmasian, kedaluwarsa obat adalah kondisi obat di mana kadarnya sudah berkurang 25 – 30% dari konsentrasi awal”. Menurutnya, sungguh kesalahan yang amat fatal sekali dan tidak berdasar kepada literatur yang ada seperti Farmakope.

Contoh lainnya pada kolom yang sama alinea keempat. “Namun demikian, obat dapat rusak sebelum tanggal kedaluwarsa yang ditetapkan pabrik, atau sebaliknya mungkin masih dapat dikonsumsi meskipun sudah lewat dari tanggal daluwarsanya.”

“Hadeww… please.. please.. apa kita tidak pernah diajarin bagaimana cara menetapkan tanggal Kedaluwarsa? Bukan perkara “mudah” dan “murah” industri menetapkan tgl. Kedaluwarsa, perlu puluhan bahkan ratusan uji yang menghabiskan biaya puluhan juta “hanya” untuk menetapkan tanggal. Expired Date tersebut” tertulis di status facebooknya.

Dalam statusnya ditegaskan bahwa sama sekali bukan maksudnya mendeskreditkan atau mencemooh upaya para apoteker memberikan “pencerahan” kepada masyarakat.

“Saya pun tahu bahwa TIDAK MUDAH membuat sebuah artikel ilmiah populer seperti ini. Tapi, please.. please.. dasarilah tulisan anda pada sumber atau pustaka resmi, misalnya UU, Perpu, Permen, dan sebagainya. Atau pustaka-pustaka resmi semisal Farmakope, ISO, CPOB, CDOB, CUKB, dll.. Sehingga buah pikir anda betul-betul “kredibel” dan yang terpenting TIDAK MENYESATKAN MASYARAKAT.” tutup akun facebook Bambang Priyambodo.