Gadis SMA Alami Kebutaan Karena Apoteker Berikan Obat Tetes Telinga

0
2408
tetes mata

Gadis SMA Alami Kebutaan Karena Apoteker Berikan Obat Tetes Telinga. Elisia Santika warga Sinar Mulia, Labuhan Dalam, Bandar Lampung, mengalami gejala kebutaan pada mata bagian kanannya.

Seperti diberitakan poskotanews.com“Awalnya, pada 19 Januari 2016 mata anak saya kemasukan binatang kecil sejenis laron lalu saya bawa berobat ke puskesmas,” kata Samiah ibunda Elisia Santika saat ditemui di rumahnya, pada Selasa (23/2) siang..

Sebelum dibawa ke puskesmas kondisi anak saya sehat. Setelah dibawa ke Puskesmas dan diberi obat tetes, bukannya sembuh tetapi akhirnya mengalami kebutaan.

Khawatir terjadi sesuatu, Samiah membawa anaknya kembali ke Puskesmas untuk mengklarifikasi terkait dengan kondisi anaknya.

“Oleh dokter, obat tetes itu diminta, kemudian dianjurkan untuk dirujuk ke rumah sakit Imanuel, Bandar Lampung, karena waktu itu Rumah Sakit Imanuel sudah tutup, kami membawanya ke Rumah Sakit Graha Husada, Karena tidak ada biaya saya tidak melanjutkan pengobatannya,”ujarnya

“Saat mengobati saya tidak teliti, jika obat tetes itu yang diberikan bagian pengambilan obat di puskesmas itu adalah obat tetes telinga bukan obat tetes mata. Bagian pengambilan obat di puskesmas yang salah memberikan obat. Obat itu baru diketahui setelah tiga kali digunakan untuk mengobati mata anak saya yang bukannya tambah membaik tapi malah anak saya jadi buta tidak bisa melihat,”imbuhnya.

Terpisah, Eli ayah Elisia Santika mengatakan, keluarganya adalah keluarga miskin. Sebab itu, untuk mengobati anaknya di RS Imanuel, Eli tidak mampu.

“Keseharian saya bekerja sebagai buruh bangunan dapat uang hanya cukup buat makan. Selama ini kalau anak dan istri saya sakit pakai jamkesmas ke puskesmas. Anak saya sakit mata malah dikasih obet tetes telinga sehingga matanya jadi buta. Saya sangat berharap pemerintah bisa membantu membiayai perobatan mata anak saya kasihan anak saya harus mengalami kecacatan karena keteledoran pegawai puskesmas,”harapnya

Sementara itu radartvnews.com mengungkapkan bahwa Kepala Puskesmas akui kesalahan pemberian obat oleh Apotekernya.

Terkait kasus dugaan kebutaan yang menimpa Elisia Santika, dimana diduga akibat salah pemberian obat , oleh petugas Apoteker Puskesmas Waykandis, Kepala Puskemas Rawat Inap Way Kandis , dokter Itan Kusuma Dewi menegaskan , jika pihak nya telah bertanggung jawab , dengan melakukan pendampingan perobatan terhadap pasien Elisia Santika, termasuk melakukan kontrol ke dokter mata , hingga sakit yang di derita remaja putri yang duduk dibangku sma tersebut sembuh.

Disinggung mengenai dugaan kebutaan yang dialami pasien , dimana diduga akibat efek dari salah pemberian obat , menurut sang kepala puskesmas , itu merupakan masalah penyakit awal yang diderita pasien , seraya membantah jika korban mengalami kebutaan , melainkan terjadi penurunan pengelihatan pada mata bagian kanan korban.

Menarik nya , terkait kasus ini pihak balai besar POM atau BBPOM Bandar Lampung , justru tampak pasang badan , dengan menyatakan jika kandungan obat tetes telinga bisa digunakan untuk tetes mata , asalkan dalam dosis yang tepat.

Sebelumnya diberitakan Elisia Santika, remaja berusia 17 tahun ,warga kampung Sinar Mulia , kelurahan labuhan dalam, kecamatan Tanjungsenang , Bandar Lampung , mengalami kebutaan pada bagian mata kanan nya ,dimana kuat dugaan hal tersebut disebabkan , salah pemberian obat , dimana seharus nya menerima obat tetes mata , justru korban diberikan obat tetes telinga , oleh petugas apoteker puskesmas setempat.

Menurut Kepala Puskesmas, Apoteker salah memberikan obat tentunya itu adalah kesalahan fatal.

Menurut BPOM adalah diindikasikan kesengajaaan dalam memberikan obat tetes telinga, maka dalam keadaan emergensi, dari sudut ilmiah memang bisa dilakukan ketika kandungannya sama dan untuk indikasi yang sama serta sebaiknya label dilepas dan diganti. Namun, akan berbahaya jika pasien tidak mampu menerima informasi yang tepat dari Apotekernya, terlebih jika Apotekernya tidak memberikan informasi dan edukasi yang tepat.

Sebaiknya hal ini dihindarkan agar tidak terjadi kesalahan terapi, terkecuali dengan berbagai alasan obat tetes mata tidak tersedia di apotek sekitarnya.