Atasi Impor Bahan Baku Obat, Pemerintah Akan Belajar Ke India

0
474
india obat

Atasi Impor Bahan Baku Obat, Pemerintah Akan Belajar Ke India. Saat ini Indonesia masih tergantung terhadap bahan baku obat dari luar negeri, 90% bahan baku obat harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi di tanah air.

Pemerintah berencana untuk bekerjasama dengan Perusahaan Asing termasuk belajar ke negara yang telah berhasil mengembangkan industri bahan baku di negaranya seperti India.

“Bapak presiden beberapa kali menyampaikan bahwa bahan baku obat lebih dari 90% impor. Bagaimana agar importasi ini dikurangi tentu saja membagun industri penghasil bahan baku obat di dalam negeri,” ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin saat melakukan kunjungan kerja ke Java Integrated Industrial Ports and Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur, Minggu (14/2/2016) dikutip dari detik.com.

Saleh mengatakan, jika industri farmasi bisa dibangun di dalam negeri, maka akan bisa mengurangi devisa dan harga obat akan turun. Selain itu, adanya keuntungan multi effect juga menjadi nilai tambah industri farmasi yang dibangun.

“Biar pun investor asing yang masuk, tapi tenaga kerjanya kan orang kita sendiri. Serapan multi effect nya juga jauh lebih dapat meski itu asing atau lokal yang membangun seperti penginapan, transportasi, restoran, dan pembangunan bangunan industrinya sendiri,” lanjut Saleh.

Saleh mengaku, sudah ada investor yang tertarik untuk berinvestasi farmasi di Indonesia. Indonesia juga akan belajar dari negara yang industri farmasinya jauh lebih berkembang.

“Minggu lalu saya berkunjung ke pabrik Cikarang, ada perusahaan Korea yang ingin kerjasama dengan Kalbe Farma. Bapak presiden juga mungkin akan berkunjung ke India yang industri farmasinya berkembang pesat,” tandas Saleh [Baca : Sanjung Kalbe Farma, Menperin Juga Ajak Asing Perkuat Industri Bahan Baku]

Dikutip dari majalahmedisina.comPerkembangan Industri Farmasi India dalam 25 tahun ini sangat luar biasa, padahal kondisinya di tahun 1970 an sama dengan Indonesia: mengimpor seluruh kebutuhan obat-obatan dari AS dan Eropa.

Hampir seluruh kebutuhan bahan baku dan obat-obatan Negara terbesar ke 3 di dunia itu kini bisa dipasok industri farmasi dalam negeri. Saat ini ada ribuan pabrik farmasi di India – dari yang kecil sederhana hingga raksasa. Sekitar 200 pabrik farmasi India sudah diapprove oleh FDA AS. Bukan hanya itu, lebih 40 persen produksi obat dan bahan baku obat India kini diekspor ke manca Negara. Bukan Negara dunia ke tiga saja sasaran ekspornya, tapi juga ke AS, Perancis, Jerman dan Amerika Latin. Amerika Serikat saja saat ini mengimpor seperempat kebutuhan obat-obatnya dari India.

Nilai ekspor obat buatan India untuk tahun 2013 silam diperkirakan telah mencapai 14,6 juta dolar AS, setara dengan 169 trilyun rupiah, sekitar 2 kali lebih besar dari anggaran sektor pendidikan RAPBN Indonesia tahun 2014 yang sebesar 82,74 trilyun.

Hal yang mendorong melesatnya industri farmasi India adalah dikeluarkannya UU Paten di tahun 1970 (Paten Act). Undang undang tersebut dimaksudkan untuk melepaskan ketergantungan India terhadap barang impor. Menurut Paten Act, hak paten dilarang untuk obat-obatan, produksi pertanian, dan enersi atom.

Dukungan Negara ini memungkin perusahaan farmasi lokal mengembangkan ketrampilan rekayasa dan riset di bidang medis. Perkembangan pabrik bahan baku obat meningkat luar biasa sehingga India dikenal sebagai eksportir bahan baku obat berharga murah. Setelah industri farmasi berkembang dimulai dengan fasilitas fisik seadanya (belum memenuhi GNP), beberapa pabrik seperti Ranbaxy secara bertahap menyesuaikan diri dengan persyaratan kualitas dari Negara maju agar obatnya bisa memenuhi standar negara maju sehingga bisa masuk ke AS dan Eropah. 

Dikutip dari tribunews.com, perusahaan India sendiri telah siap untuk ekspansi ke Indonesia.

“Kami akan meningkatkan distribusi produk ke Indonesia dan pasar ASEAN dan berusaha keras untuk mendirikan pabrik di Special Economic Zones (SEZ) di Indonesia dan negara tetangga,” kata Managing Direktur Orchid Pharma Ltd, Shri K Raghavendra Rao, dalam acara penandatanganan agreement on financial structuring antara Linetrust International dengan Orchid Europe Limited di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (23/12/15).

Tepatkah Indonesia belajar dan menerapkan apa yang telah dilakukan oleh India saat ini untuk mengurangi beban impor bahan baku obat? Para ahli farmasi India banyak bersekolah di USA dan Eropa, di Indonesia yang belajar kok pemerintah?

SHARE