Penyebaran Apoteker tidak Merata, Kutai Timur Sangat Membutuhkan

0
622
apoteker

Penyebaran Apoteker tidak Merata, Kutai Timur Sangat Membutuhkan. Salah satu penyebab mengapa Apoteker tidak merata adalah kurangnya putra daerah yang diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan Sarjana Farmasi dan Profesi Apoteker.

Jarang seorang apoteker memutuskan berpetualang ke suatu tempat terpencil untuk hidup dan mengabdi disana. Oleh karenanya, beberapa tahun terakhir ini pemerintah mulai menggalakan dan membuka peluang melalui beasiswa Pemerintah Daerah maupun beasiswa di Universitas besar seperti Unpad, UGM, ITB dan UI melalui program beasiswa bidik misi dan SNMPTN yang saat ini seleksinya melalui penelusuran nilai rapot.

Dikutip dari bontang.prokal.co., Selain tenaga dokter yang jumlahnya sangat sedikit, rupanya pekerjaan rumah lain yang kini dihadapi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim) adalah terbatasnya tenaga analisis dan tenaga apoteker. Dari 21 pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang ada, ternyata hanya dua hingga tiga saja yang sudah memiliki. Selebihnya tugas kedua tenaga itu hanya dilayani oleh tenaga bidan dan keperewatan saja.

“Di Kutim ini tenaga analisis dan tenaga apoteker masih sangat terbatas. Seharusnya, setiap puskesmas memiliki kedua tenaga itu. IItu sesuai anjuran dalam Permekes nomor 7 tahun 2014 yang mengatur tentang standar pelayanan kesehatan di Puskesmas hingga Rumah Sakit,” kata Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Kutim Impung Anyeq ditemui beberapa hari lalu.

Menurutnya, tenaga analisis dibutuhkan untuk keperluan pemeriksaan darah. Nah, di Kutim baru beberapa puskesmas saja yang memiliki. Sementara dalam Permenkes setiap puskesmas diharuskan memiliki kedua tenaga itu. Meninggat Permenkes tersebut juga mengacu pada standar pelayanan kesehatan yang ada di World Health Organization (WHO).

“Yang baru memiliki tenaga analisis darah itu seperti di Puskesmas Muara Wahau, Muara Bengkal dan Sangkulirang. Selebihnya belum ada satupun yang memiliki. Sementara Permenkes mengharuskan adanya itu untuk mendorong peningkatan kualitas dan mutu pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Nah, itupun rupanya belum teramksuk tenaga apoteker yang khusus menyimpan dan mengelola obat-obatan. Kata Impung, kebanyakan tenaga yang mengelola obat-obat di Puskesmas saat ini rata-rata dilakukan oleh tenaga keperawatan. Bahkan di sebagian Puskesmas lainnya di Kutim dikelola oleh mereka yang hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kami. Lewat formasi penerimaan calon tenaga pegawai negeri sipil (CPNS), kami harapkan tenaga-tenaga itu dapat terakomir juga. Walaupun tidak semendesak tenaga dokter, tapi kedua tenaga itu juga penting demi terselenggaranya pelayanan kesehatan yang baik di masyarakat,” kata dia.

Jika bidhuaners seorang Apoteker, berbanggalah karena saat ini profesi Apoteker mulai tampil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kalau merasa putra/putri daerah tapi masih berada di kota yang padat apoteker, saatnya mengabdi untuk daerahnya sendiri.

SHARE